Internasionalisasi Seni Rupa Indonesia

PERBINCANGAN dengan Suwarno Wisetrotomo



Teks dan Foto Doddi Ahmad Fauji



Borobudur adalah sebuah karya seni rupa masa lalu. Karena itu, kita harus bisa melahirkan karya seni rupa yang menjadi kebanggaan masa sekarang, bahkan meretas hingga jadi kebanggaan generasi mendatang. Soekarno pernah membanggakan Borobudur kepada Nikita Khrushchev (Pemimpin Uni Sovyet kala itu). Khrushchev berujar, “Itu kan karya mbah-mu (leluhurmu), lalu mana karyamu?”
Soekarno terpekur, dan membuatnya segera mendirikan gedung olahraga Senayan, gedung DPR/MPR, Masjid Istiqlal, patung-patung berukuran besar, dan lain-lain.

Borobudur pernah menjadi satu dari tujuh keajaiban dunia. Namun karena promosi yang kurang gencar, segera tergeser oleh mahacipta dari bangsa lain yang lebih gencar diperkenalkan di dunia internasional. Jadi, selain kita harus mengukir prestasi sendiri yang senapas dengan peradaban manusia, kita juga harus gencar mempromosikannya ke pelbagai penjuru dunia.

Sebagian pelaku seni rupa, kita juga gandrung pada kontemporerisme. Ada pertanyaan-pertanyaan yang muncul: apakah karya seni rupa kontemporer merupakan kelanjutan; dan atau jiplakan dari luar; dan dengan demikian kurang pantas diberi stempel karya seni; atau hasil dari olah genuine local yang patut dipertandingkan dengan karya-karya seni rupa gubahan bangsa lain? Sebagaimana Borobudur layak dipertandingkan dengan mahakarya bangsa lain?

Kita tidak perlu memperdebatkan soal itu secara berlebihan. Sebab, yang diperlukan sekarang adalah: bagaimana karya seni terus diproduksi dengan mengusung semangat lokalitas, lalu kita publikasikan dan promosikan ke pelbagai penjuru angin. Upaya yang tidak gampang dan sangat membutuhkan sinergi berbagai pihak.

Di ranah seni rupa, salah satu institusi yang terlibat dalam upaya publikasi dan promosi ini adalah lembaga kuratorial. Untuk menelisik peran kuratorial dalam internasionalisasi karya seni rupa, Perbincangan edisi ini menghadirkan Suwarno Wisetrotomo sebagai narasumber. Sekira 20 tahun Suwarno berkecimpung sebagai kurator seni rupa Indonesia. Berikut petikan wawancaranya.


Bagaimana kita harus menginternasionalisasi karya seni rupa Indonesia?
Tentu saja ada banyak cara. Misalnya, bisa membuat even seni rupa di Indonesia tapi skala dan kualitas internasional. Atau bisa dengan cara mendatangi dan berpartisipasi di forum-forum seni rupa di luar negeri. Artinya, dalam dunia yang semakin mudah diakses, untuk menginternasional tidak harus ke mana-mana, atau sekaligus harus ke mana-mana.

Bagi saya, menginternasional lebih dikarenakan kualitas karya, kecerdasan gagasan, kepiawaian mengartikulasikan dan mengkomunikasikan ide-ide, serta kecanggihan mengemas presentasinya. Kemudian perlu dilihat bagaimana ‘dampak politik’nya, dalam pengertian, bahwa peristiwa itu memunculkan perbincangan (diskusi) dan merangsang pemikiran-pemikiran. Dengan kata lain, menginternasional bukan karena tempatnya, tetapi karena kualitas atau “kekuatan” karya-karyanya yang membuat gaung wacananya dianggap penting, dan karenanya meluas, menjadi perbincangan – dalam diskusi, dalam seminar, dalam jurnal-jurnal, atau dalam media massa lainnya – yang tidak boleh dilewatkan.


Bagaimana Anda menetapkan parameter internasionalisasi itu?
Parameter yang bisa dilihat adalah, seperti sudah saya singgung di atas, terkait dengan “kualitas” keseluruhan. Maksudnya, bahwa karya-karya seharusnya memiliki kualitas visual, kualitas “pesan, isi, atau muatan”, dan kualitas artikulasi serta presentasinya. Hal ini penting, karena sering terjadi, terdapat karya-karya yang bagus secara visual, tetapi lemah isi atau pesan (ideologi)-nya, lemah juga artikulasinya. Nah, karya-karya yang demikian itu, dapat dipastikan tidak akan “berbunyi” di forum-forum internasional, di mana pun peristiwanya diselenggarakan.

Berpartisipasi di forum internasional, seharusnya memiliki kesadaran semacam itu, agar tidak mubazir dan konyol. Parameter yang harus dicermati adalah infrastrukturnya, atau institusi penyelenggaranya; misalnya, galeri atau museum macam apa, siapa kuratornya, siapa saja institusi pendukungnya, seperti apa konfigurasi audience-nya, seperti apa jejaringnya, atau kolektor-kolektornya, media partner-nya, dan lain sebagainya. Infrastruktur yang mendukung atau yang berpartisipasi, akan sangat menentukan “kualitas internasional” yang dimaksud. Sebutlah misalnya Venice Biennale, Shanghai Biennale, Beijing International Art Biennale, Sao Paulo Biennale, memiliki syarat-syarat yang cukup untuk dimahkotai sebagai peristiwa internasional.

Perlu daya dukung macam apa hingga misi internasionalisasi itu bisa tercapai?
Perlu daya dukung yang lengkap dari semua pihak. Dari sisi seniman, tentu harus memiliki kesadaran penuh, bahwa ia harus menyajikan karya-karya yang “kuat” rupa dan “isi”nya. Seniman seharusnya mengandaikan, bahwa forum internasional adalah forum yang krusial untuk menegaskan kehadiran dirinya dalam dunia seni rupa melalui statement yang cerdas dan kuat. Bukan sekadar mejeng tanpa pernyataan apa pun. Bagi kurator, harus memiliki kesadaran penuh bahwa statement kuratorialnya menjadi bagian penting dalam membangun politik identitas yang pantas didiskusikan. Bagi institusi penyelenggara beserta seluruh manajemennya, harus benar-benar profesional dalam mengelola peristiwa seni rupa yang dimaksud, agar benar-benar sampai kepada masyarakat luas, bahkan masyarakat internasional, dan menjadi pembicaraan.

Peran negara (pemerintah) juga sangat penting untuk memayungi dan memperkokoh peristiwa seni rupa menjadi peristiwa milik semua pihak. Artinya, negara harus tahu dan ikut bertanggung jawab. Sejauh yang saya tahu dan saya ingat, pemerintah Indonesia pernah benar-benar terlibat hanya untuk peristiwa pameran Kebudayaan Indonesia di Amerika Serikat (KIAS) tahun 1990-1991, kemudian Pekan Kebudayaan Indonesia di Belanda (PAKIB) tahun 1991-1992, dan Pameran Seni Rupa negara-negara Non Blok di Galeri Nasional Indonesia Jakarta pada 1995.

Anda tahu kan, bagaimana dampak dari peristiwa itu? Meski sebagian membuat masygul, karena proses kurasi dan cara membangun posisi tawar yang kurang taktis, akibatnya misalnya seni rupa kita ditolak di museum atau galeri nasional di Amerika dan di Belanda. Padahal sesungguhnya peristiwa itu sangat potensial untuk dijadikan peristiwa seni rupa berkala, sebagai peristiwa budaya yang penting. Sayangnya, setelah itu tak ada lagi, negara tidak hadir lagi dalam peristiwa seni rupa, dan selebihnya adalah inisiatif-inisiatif swasta yang lumayan jatuh bangun.

Sejauh ini, seperti apa respons publik seni internasional terhadap karya seni rupa Indonesia, dari tradisi, modern, hingga kontemporer?
Respons publik seni internasional sesungguhnya tergantung dari materi dan cara kita mengemasnya. Kalau materinya “kuat” seperti sudah saya singgung dalam jawaban sebelumnya, kemudian artikulasi dan presentasinya bagus, publik internasional akan antusias merespons dan memberikan apresiasi. Banyak contoh yang bisa diceritakan. Secara umum terus terjadi perkembangan apresiasi, baik dalam konteks pembacaan maupun pemaknaan. Buku-buku atau kajian-kajian kritis, termasuk tulisan-tulisan untuk media, semakin banyak ditulis oleh pengamat Barat. Saya kira itu penting artinya bagi upaya mengkomunikasikan seluas-luasnya seni rupa Indonesia di panggung dunia.

Peran peneliti dan kurator asing seperti Helena Spanjard, Astri Wright, Anton Larenz, Jean Couteau, dalam proses internasionalisasi, bisa Anda sebutkan manfaat langsungnya?
Peran mereka jelas, membuka wawasan dan cara pandang masyarakat Barat tentang realitas – praktik seni dan pemikiran seni – seni rupa Indonesia, juga menumbuhkan kesadaran kita tentang masih miskinnya buku-buku seni rupa Indonesia yang berbasis penelitian holistik dan mendalam. Mereka dengan tekun mencatat dan mengkonstruksi pemikiran dan artefak seni rupa Indonesia, sesuai dengan minat dan sudut pandang mereka. Bahkan tulisan Claire Holt, Art in Indonesia, Continuities and Change yang diterbitkan pada 1967, masih digunakan sebagai acuan utama bagi para peneliti Indonesia. Manfaat langsung dari penelitian mereka adalah membangkitkan daya gugah kita untuk semakin sadar pentingnya mendokumentasi, mencatat, dan mengamati, kemudian menuliskannya. Manfaat lebih jauh, adalah terbangunnya pemahaman masyarakat internasional tentang seni rupa Indonesia.

Soal apresiasi, bagaimana memasyarakatkan terus-menerus minat apresiasi masyarakat umum terhadap aktivitas dan pemikiran seni rupa, di era yang sudah berubah ini, kami kira perlu metode baru yang lebih highlight?
Yang terpenting menurut saya adalah, masyarakat luas memiliki kemudahan untuk mengakses segala bentuk informasi termasuk tulisan-tulisan apresiasi kritis. Harus terus menerus diupayakan bagaimana menciptakan kondisi bahwa masyarakat menjadi bagian penting dari setiap peristiwa seni rupa. Dengan demikian masyarakat akan terus terkondisi, terpicu minatnya untuk mengetahui lebih banyak, lebih luas, dan lebih dalam tentang berbagai hal yang terkait dengan seni rupa. Ketika seniman atau institusi penyelenggara peristiwa seni rupa hanya asyik sendiri, jangan harap masyarakat menjadi bagian penting dan menjadi pendukung kegiatan tersebut.

Di samping itu, setiap peristiwa seni rupa memang harus dilengkapi dengan informasi, misalnya katalog, buku-buku, yang lengkap sebagai bagian dari edukasi. Setiap peristiwa seni rupa seharusnya menjadi arena pembelajaran bersama-sama dengan segenap kerendahhatian. Saya percaya, sikap rendah hati lebih mudah memancarkan atau menangkap nilai-nilai yang penting dan berguna bagi jiwa dan kehidupan kita.

Mengenai pembeda yang kemudian menjadi parameter formal untuk mengklasifikasikan karya seni (termasuk seni rupa), bagaimana Anda memandangnya, dan memberi argumentasinya?
Yang harus disosialisasikan dan diharapkan menjadi pengetahuan bersama, seniman dan masyarakat adalah, bahwa bentuk seni rupa dan pengertiannya terus bergeser seiring dengan perkembangan pemikiran. Bagi saya, yang terpenting adalah argumentasi yang terang-benderang oleh orang yang memiliki kompetensi, misalnya kritikus atau peneliti, atas berbagai bentuk dan peristiwa seni rupa, sehingga apa pun bentuk dan peristiwanya, masyarakat akan memiliki acuan untuk memahami.

Tentu pemahaman itu tidak segera akan terjadi, tergantung dari kapasitas, kapabilitas, dan intensitas seseorang terhadap dunia seni rupa. Karena itu ruang dialog harus terus-menerus diciptakan dan dibangun. Kesenian itu bukan sekadar perkara produksi dan konsumsi. Tetapi perkara pengalaman hidup, nilai-nilai, metafora, interpretasi, pemaknaan, yang didialogkan terus-menerus dengan diri sendiri maupun dengan orang lain. Kesemuanya itu bersumber dari alam semesta, dari hati dan pikiran, juga dari kompleksitas pengalaman kehidupan. Jadi sikap sok, mentang-mentang, atau dumeh, mumpung, dan sebagainya, dalam profesi dan kapasitas apa pun, sungguh lebih banyak merugikannya.

Ini soal klise, tapi lagi marak dipraktikan. Kami melihat peran kurator lebih banyak sebagai artpromotor-nya, kami kira ini akan simpang-siur. Sebetulnya, peran dan tugas utama kurator itu apa, dan output nya seperti apa pada medan seni rupa?
Ya Anda benar, masih juga simpang-siur ya. Padahal menurut saya sederhana saja. Peran dan tugas utama kurator adalah melakukan pengamatan, pembacaan, dan pemaknaan terhadap berbagai fenomena seni rupa, atau karya seni rupa, kemudian mempresentasikannya dengan bentuk pameran atau pertunjukan seni rupa yang jelas dan bertanggungjawab. Output-nya adalah produksi wacana yang dilengkapi dengan analisis dan argumentasi yang kritis, dilengkapi dengan presentasi pameran yang “kuat”, yang menggugah daya apresiasi, intelektualitas, pencerahan masyarakat luas, dan dijadikan acuan serta pertimbangan oleh banyak pihak. Perkara-perkara lain, seperti aspek pasar misalnya, itu jelas urusan manajemen.

Mengenai biennale seni rupa di Indonesia, mengapa selalu disertai dengan lahirnya kekisruhan?
Hehehe begitu ternyata ya. Kekisruhan itu sebenarnya, bahkan anehnya, bersumber dari dunia seni rupa (seniman, kritikus, penggembira) itu sendiri. Mengapa terus terjadi? Menurut saya, karena itu tadi, sebuah peristiwa biennale seni rupa belum disikapi sebagai peristiwa milik bersama. Bahkan tidak jarang, bahkan sering terjadi, seniman peserta biennale, memaki-maki peristiwa yang dia ikuti. Sasarannya bisa kurator atau manajemen, dalihnya adalah tidak profesionallah, tidak jelas kuratorialnyalah, lalu membanding-bandingkan ketika dirinya diundang biennale atau pameran di luar negeri yang menurutnya serba hebat. Semua itu dikatakan berbusa-busa, tanpa kesadaran, bahwa kita membangun biennale dengan kerumitan yang serius, dan seharusnya perlu diatasi bersama-sama. Wah, hebat bangetlah pokoknya kritik-kritik itu.

Lalu ada kritik yang membabi buta, menilai semua hal serba buruk, tanpa sedikitpun mau mengapresiasi capaian kurator atau manajemen, atau seniman yang sudah bekerja keras merespons peristiwa itu. Kalau perlu memakinya di koran luar negeri. Lah, emang publik luar negeri butuh maki-makian seperti itu? Publik luar negeri lebih butuh informasi peristiwa dan nama-nama seniman yang kuat, yang menjanjikan kalau diwacanakan di forum yang lebih luas. Pernyataan ini bukan menunjukkan bahwa saya tidak anti kritik. Sama sekali tidak. Kritik itu perlu untuk media pembelajaran bersama. Tetapi yang perlu dipertimbangkan matang adalah persoalan proporsi, dan niat baik, bagaimana membangun “rumah seni rupa” kita bersama-sama, yang kelak akan menjadi kebanggaan bersama. Artinya, perlu ada kehendak untuk saling mengisi kekurangan orang lain. Bukankah peristiwa selevel biennale seharusnya merupakan “proyek bersama”?

Bisa Anda terangkan biennale yang ideal untuk di negara kita?
Bagi saya, sederhana saja, yakni suatu biennale seni rupa yang menjadi milik bersama. Biennale di Indonesia berpotensi besar menjadi brand kota yang memiliki karakter kuat. Misalnya Biennale Yogya atau Biennale Jakarta, keduanya justru harus beda karakternya, dan menjadi brand yang kuat. Jika biennale di kedua kota itu berhasil diciptakan menjadi brand yang berwibawa, maka setiap orang, setiap seniman, setiap perupa, kritikus, atau peneliti dari mana pun, akan merasa “harus datang dan berpartisipasi” pada kedua peristiwa biennale di Yogyakarta maupun di Jakarta. Nah, membangun biennale hingga mencapai kualitas semacam itu, tak cukup hanya dengan dimaki-maki oleh sesama seniman, atau kurator, atau kritikus seni lain. Sebaliknya harus dibangun bersama-sama dengan segenap kerendahan hati.

Banyak “harus” yang harus dibangun: sistemnya, manajemennya, ‘kepemilikannya’, peran negara, peran swasta, semuanya harus kuat. Dengan demikian, siapa pun kuratornya, siapa pun senimannya yang berpartisipasi atau yang diundang, sebuah biennale menjadi peristiwa yang ditunggu oleh banyak pihak.


Kutipan:
Banyak “harus” yang harus dibangun; sistemnya, manajemennya, ‘kepemilikannya’, peran negara, peran swasta, semuanya harus kuat.


Suwarno Wisetrotomo dilahirkan pada 10 Januari 1962 (meskipun karena kesalahan sejak awal, tertulis di surat-surat resmi 29 April 1962), di Kulon Progo, Yogyakarta, anak ke-11 dari 12 bersaudara. Menyelesaikan pendidikan SMP di Kulon Progo (1978), pendidikan seni rupa di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR/dulu SSRI) Yogyakarta (1982), pendidikan S-1 Seni Rupa di Fakultas Seni Rupa dan Disain ISI Yogyakarta (1987), dan menyelesaikan Master (S-2) di UGM Yogyakarta (2001). Sejak 1989 menjadi Dosen di Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta, dan (sejak 2005) mengajar di Pascarjana ISI Yogyakarta.
Di samping menulis kritik dan mengkuratori berbagai pameran, baik di dalam maupun luar negeri, juga menjadi Pemimpin Redaksi ARS-Jurnal Seni Rupa dan Disain (sejak 2006), menjadi Editor Majalah Kebudayaan MATA JENDELA (sejak 2005), menjadi Anggota Redaksi Jurnal SENI-Jurnal Pengetahuan dan Penciptaan Seni ((sejak 1992), dan menjadi Anggota Dewan Kebudayaan Provinsi DIY (2001-2008).
Menjadi pembicara di berbagai forum seminar di dalam negeri maupun luar negeri, antara lain, sebagai pembicara pada “Conference Contemporary Art with Humanity Concern” dalam rangka The Second Beijing International Art Biennale, di Anhui, China (23 – 25 September 2005); menjadi pembicara pada International Aesthetic Conference ASIAN Society of Art, di Villa Prana Shanti, Gianyar, Bali (10-14 Nopember 2006), dan menjadi pembicara dalam “The Tide of the Art Studies of Asia – The 5th International Aesthetic Conference” di Ritsumeikan University, Kyoto, Jepang (29-29 Agustus 2007).

PROMOSI ADALAH INVESTASI

PERBINCANGAN DENGAN I GDE PITANA

TEKS DAN FOTO DODDI AHMAD FAUJI


Pada 2008, industri pariwisata Indonesia maju pesat. Tercatat tiga rekor dipecahkan, yaitu: kunjungan terbesar wisatawa mancanegara sepanjang sejarah pariwisata Indonesia; kunjungan terbesar dalam setahun sepanjang tahun-tahun wisata Indonesia; dan akhirnya berdampak pada perolehan devisa tertinggi.

Bagaimanapun, rekor ini harus dicatat sebagai prestasi, apalagi setelah industri pariwisata Indonesia mengalami babak-belur paska Bom Bali I dan II. Dan rekor itu memang patut diacungi jempol, sebab dicapai kala krisis moneter global terjadi sejak September 2008.

Kemajuan kunjungan wisata ini, berdampak pada sosialisasi karya seni dan budaya bangsa. Para wisatawan, terutama yang berkunjung ke Bali dan Yogyakarta, bagaimana pun akan “dikepung’ oleh peristiwa seni-budaya.

Sektor kebudayaan dan pariwisata yang bernaung di bawah satu payung, yakni Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar), memang sudah seharusnya dapat disinergikan supaya saling menghidupkan. Industri pariwisata tanpa ditopang aktivitas seni budaya tentu akan kering. Sedangkan dunia pariwisata bagaimanapun telah turut melestarikan karya seni budaya.

Bagaimana prospek industri pariwisata Indonesia pada 2009, dan seperti apa strategi Depbudpar memasarkannya ke luar negeri, I Gede Pitana, Direktur Promosi Wisata Luar Negeri menyampaikan jawabannya melalui perbincangan di hari Selasa, 10 Februari 2009, lalu. Berikut petikannya.

Bisa dideskripsikan tugas pokok Direktorat Promosi Luar Negeri yang Anda pimpin?

Di Direktorat Jenderal (Dijen –red) Pemasaran Depbudpar ini ada beberapa pekerjaan pokok. Pertama, ada pekerjaan sekretariat yang menangani kebutuhan logistik, dan ada direktorat yang menangani teknis. Di Ditjen pemasaran ini, ada Direktorat Promosi Dalam Negeri, Direktorat Promosi Luar Negeri, Direktorat Meeting Convention, Direktorat Pengembangan Pasar, dan ada Direktorat Sarana Promosi.

Kalau saya andaikan ke dalam restoran, maka dapurnya itu ada di Direktorat Pengembangan Pasar. Hasil dapur itu butuh dipromosikan, dan apa saja yang diperlukan untuk melakukan promosi, ditangani oleh Direktorat Sarana Promosi. Nah, yang menjualnya ke orang lain, itu ditangani oleh Direktorat Promosi Dalam dan Luar Negeri. Saya mendapat tugas menjual hasil dapur itu ke luar negeri. Jadi saya ibarat waitress yang bertugas menawarkan dan mencatat order dari pengunjung.

Bisa dicontohkan teknis pekerjaan yang sudah Anda lakukan?
Saya pergi ke luar negeri, mengikuti berbagai even, seminar, festival, yang menjadi sarana untuk mempromosikan Indonesia. Kami ikuti pameran pariwisata seperti di Inggris namanya World Tourism Fair, pemeran pariwisata di Berlin namanya International Tourism World, pameran pariwisata di Singapura, Malaysia, China, Australia, dan lain-lain. Itulah pekerjaan saya, mendagangkan pariwisata ke luar.

Kami juga ngasong, ngamen, dari kota ke kota, namanya sales mission. Katakanlah kami ke Australia, di mulai dari Perth, menemui para pelaku industri pariwisata di sana, terus jualan. Besoknya ke Melbourne, pekerjaannya sama. Pindah ke Sydney, berdagang lagi.

Apa sih yang dijual ke mereka?
Pariwisata Indonesia itu terdiri dari unsur CAN (culture, adventure, nature). Kalau berbicara pariwisata Indonesia, andalan kita adalah culture (budaya). Jendela pariwisata kita adalah Bali, di mana Bali itu kekuatannya terdapat pada culture. Bisa disimpulkan culture adalah modal utama dari pariwisata Indonesia.

Bangsa kita itu memiliki 350-an etnik dengan sekira 451 bahasa daerah. Tapi mengapa orang lebih banyak datang ke Bali? Karena kata mereka, budaya Bali cukup unik. Budaya unik ini adalah suatu istilah yang sangat benar. Tapi bukan berarti yang lain tidak unik. Semua budaya adalah unik. Kalau datang ke Aceh, bagi saya, unik sekali Aceh itu. Lombok, Flores, Natuna, Bunaken, semua unik. Karena kita mempunyai 350-an etnik, maka kita memiliki 350-an budaya yang unik. Ini adalah kekayaan yang luar biasa. Di luar Bali, mana yang kuat dapat mengundang wisatawan luar? Semuanya sebenarnya potensial. Hanya saja, yang sudah terkemas dengan baik, baru beberapa. Di luar Bali, yang kemasannya baik adalah Yogyakarta, Toraja, Padang.

Berbicara soal seni dan budaya dalam dunia pariwisata, bisa diceritakan bagaimana kerjasamanya, misalnya antara Direktorat Kesenian yang berkantor di Sudirman dengan Direktorat Pemasaran?
Ada perbedaan antara kesenian di direktorat bidang kebudayaan, dengan aspek-aspek kesenian yang dibicarakan di pariwisata. Bedanya, di Direktorat Kesenian, lebih banyak berbicara kesenian sebagai suatu kreativitas manusia, dan seni untuk dikonservasi, sedangkan yang dibicarakan dalam konteks pariwisata adalah kesenian sebagai industri. Dalam pariwisata, kesenian itu telah dikemas. Jadi yang dijual adalah kemasannya.

Apakah kemasan kesenian merusak kesenian itu sendiri? Oh tidak. Ketika berbicara pelestarian kesenian, pariwisata justru merupakan wahana terbaik untuk pelestarian kesenian. Dalam artian, industri pariwisata membuat aktivitas kesenian menjadi dinamis.

Tapi banyak yang mengeritik, kok pemerintah bisanya hanya menjual kesenian?
Kami selalu meminta pendapat dan saran kalau sudah menyangkut kesenian, misalnya mana saja karya seni yang bisa dieksplorasi dan mana yang tidak boleh. Mana yang bisa dikemas untuk dijual, dan mana saja karya seni yang benar-benar sakral dan tidak boleh dijual. Bila karya seni sakral tidak boleh dijual tapi ada permintaan dari luar negeri, maka kita buatkan artifisialnya untuk dikirim ke sana.

Selain itu, bila kita mendapatkan order dari luar untuk mempertontonkan karya seni yang asli di luar negeri, karya seni yang bukan artifisial, kami pasti akan menyampaikan permohonan ke Direktorat Kesenian yang selalu rutin dan periodik menyelenggarakan festival kesenian se-Indonesia. Grup terbaik dari hasil festival itulah yang kemudian kami kirim ke permintaan dari luar itu.

Apakah di direktorat bidang pariwisata ada bidang yang mengurusi pembinaan kesenian, dalam artian yang mengurusi pengemasan kesenian?
Sebenarnya begini, sebagai suatu sumber daya pariwisata, kebudayaan maupun alam sudah dikemas dalam benda modal pariwisata. Pengemasan itu secara teoritis dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pengembangan Destinasi. Di Ditjen Pemasaran, khususnya Direktorat Pemasaran Luar Negeri, kami melakukan sentuhan-sentuhan untuk merangsang seniman melakukan pengemasan yang bisa dijual.

Misalnya, ketika kami pergi ke Korea, kami tawarkan kepada masyarakat Korea kemasan perkawinan dan bulan madu di bali. Bentuknya seperti apa? Misalnya pernikahan orang Korea dengan budaya Bali, namun sudah dikemas dan dimodifikasi sedemikian rupa sehingga pernikahan itu tidak sakral. Kami mengemas seni-budaya itu dalam bentuk apa yang disebut dengan pseudo traditional culture, atau tidak asli tapi mirip, atau apa yang disebut dengan simulakra kalau dalam teori sosial, artificial art dalam istilah kesenian.

Bagaimana upaya menggiring mereka supaya mau melihat seni yang asli, yang sakral, supaya wisatawan menambah hari kunjungan dan membelanjakan uangnya?
Begini, wisatawan itu ada segmentasinya. Ada yang datang ke suatu daerah hanya untuk prestige, untuk berkata I have been there. Dia akan bercerita kepada teman-temannya, saya pernah ke sana, foto-foto di sana. Ada wisatawan dengan tujuan nature tourism, yaitu wisatawan yang betul-betul menghayati dan menikmati apa-apa yang dilalui dan dilihatnya.

Ada wisatawan yang special interest tourism. Kalau dia ingin menikmati kebudayaan suatu daerah, maka ia akan betul-betul mengamatinya, mempelajarinya, dan pasti akan tinggal berlama-lama di suatu daerah. Ketika dia ingin mengetahui alam Indonesia, maka ia akan betul-betul bergaul dengan orang utan. Ketika ia ingin menikmati kehidupan bawah laut, mungkin ia akan pergi ke kawasan Rajaampat yang benar-benar masih alamiah.

Jadi, kita tidak bisa mengharapkan semua wisatawan akan menyukai seni-budaya. Mereka yang datang menikmati seni budaya yang sakral adalah orang-orang yang telah melalui tahapan-tahapan apresiasi. Kita hanya bisa menyuguhkan sesuatu untuk mereka berapresiasi. Namun tentu bukan berarti kami tidak memperjuangkan hal itu.

Setelah Anda bekerja keras, bagaimana hasilnya? Apa ada peningkatan kunjungan wisatawan dari luar?
Sampai akhir 2008, data menunjukkan, telah terjadi peningkatan kunjungan dan pemecahan rekor. Jumlah kedatangan wisatawan adalah 6.433.000 jiwa, dibandingkan 2007, naik 13% dari 5,5 juta kunjungan. Ini sudah merupakan angka tertinggi yang pernah dicapai dalam sejarah wisata Indonesia.

Rekor-rekor baru yang dicapai selama 2008 adalah: pertama, jumlah kedatangan yang mencapai 6.433.000 itu; kedua, jumlah kunjungan dalam setahun adalah terbanyak selama tahun-tahun sejarah pariwisata. Dari jumlah 5,5 juta menjadi 6,4 juta, artinya meningkat 900 ribuan. Itu belum pernah dalam sejarah Indonesia.

Rekor ketiga adalah jumlah devisa yang dihasilkan. Kalau sebelumnya, devisa yang dihasilkan itu 5,3, sekarang sudah mencapai 7,12, akibat meningkatnya jumlah kunjungan dan pembelanjaan. Kalau 2007, setiap wisatawan membelanjakan uang US$971, maka pada 2008 setiap orang membelanjakan uang US$1178. Penambahan tersebut dikalikan dengan jumlah kunjungan wisatawan, maka peningkatannya mencapai 7,172 miliar dolar.

Berarti ada tambahan anggran untuk Depbudpar?
Kalau kita menyadari bahwa promosi adalah investasi, dan ingin mendapatkan lebih, tentunya anggaran promosi memang harus ditingkatkan. Kalau kita mancing buaya menggunakan ikan lemuru, ya sulit. Kalau mau mancing buaya, seekor babi umpannya. Kalau mau mancing uang, ya harus dengan uang, kalau dengan kacang, yang terpancing nantinya hanya monyet.

Tahun 2009 ini, yang menjadi tema kampanye promosi wisata apa?
Depbudpar sekarang memilih tema Marine and MICE. Kenapa marine? Pertama, kita memiliki banyak laut. Sumber pariwisata bawah laut kita luar biasa kaya, biota-biota laut luar biasa kaya. Kemudian, ikan-ikan laut kita luar biasa jumlahnya. Kekayaan laut di Rajaampat, Bunaken, Wakatobi, sekitar Bali, sungguh melimpah.

Kedua, pasar wisata internasional memang sedang mengarah ke wisata bahari. Jadi, peluang ini tidak boleh kita sia-siakan. Jumlah wisata bahari meningkat di mana-mana, hingga diramalkan pada 2000-an ini akan menjadi The Second Rennaisance of Ocean di dunia, setelah abad ke 15-16 pelayaran laut internasional mengalami kejayaan yang pesat. Kala itu, banyak penemuan tempat baru, peningkatan perdagangan internasional, dan akulturasi budaya akibat kejayaan laut. Muncul tokoh-tokoh laut seperti Vasco da Gamma, Colombus, Ferdinand Magelhaes.

Sekarang, laut kembali marak. Cruise-nya yang sekarang berukuran besar, bisa berisi 5.000 penumpang. Di dalamnya bukan hanya ada kolam renang, tapi ada lapangan golf, lapangan sepak bola. Ini jadi awal dari kebangkitan kedua kejayaan laut itu.

Lalu MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) kita jadikan tema karena potensi menghadirkan orang dan devisa cukup besar. Coba hitung, sekali mengadakan seminar di Bali, misalnya konvensi global warming, itu bisa mencapai 12.000 orang dari berbagai negara datang ke Bali. Peserta meeting ini kan umumnya kelas middle up. Jadi mereka pun akan membelanjakan uangnya cukup besar. Di samping banyak orang datang, acara MICE ini juga menguntungkan dari sisi pemberitaan yang positif. Bahkan dengan pemberitaan besar-besaran, memungkinkan banyak orang semakin tahu Bali, tahu Indonesia.

Tetapi jangan mengartikan ketika kita menggarap tema Marine and MICE ini yang lain terlupakan. Culture dan nature tetap kita garap dan diperkuat.

Bagaimana penataan dan pembenahan infrastruktur industri pariwisata, misalnya yang sederhana adalah brosur pariwisata, apa tahun ini juga dibangun lebih gencar?
Ini sudah berbicara soal produk. Dengan konsep otonomi daerah ini, maka pembangunan infrastruktur, apakah yang terkait dengan pariwisata atau tidak, itu akan menjadi tanggung jawab daerah yang memiliki wilayah. Pemerintah pusat kewajibannya adalah memfasilitasi, memotivasi, meregulasi. Tentu saja Depbudpar tidak tinggal diam.

Mengenai pembuatan brosur yang lengkap dan komprehensif, memang kita harus mengakui, salah satu kelemahan kita adalah dalam bidang media promosi seperti brosur itu. Hal ini menjadi pikiran saya untuk menggarap brosur terutama yang berhubungan dengan segmen-segmen khusus. Saat ini, membuat brosur yang bersifat umum sudah kurang efektif. Kita harus mengembangkan brosur untuk promosi pariwisata yang spesifik, misalnya paket wisata wedding and honeymoon. Kita harus bikin brosur tentang golf, surfing, dan lain-lain. Nah, saat kita dagang ke luar, bila bertemu para golfer, maka brosur itulah yang kita berikan.

Jadi, promosi wisata ini sekarang harus betul-betul memperhatikan segmentasi. Di bawah bimbingan Pak Sapta, sekarang ini kita berusaha menerapkan The New Wave (pemasaran gelombang baru), misalnya karena kita tidak punya uang banyak, maka kita tidak mempromosikan pariwisata kita di CNN, di mana 1 menit itu biayanya US$50 juta.

Contoh The New Wave misalnya kami ajak keluarga Chu dari China. “Hey, kalian main dong ke Indonesia, nanti semalam kalian dijamu oleh pemerintah Indonesia.” Datanglah 800 orang dari mereka itu. Lalu kita undang para golfer. “Hey kalian, bikin dong turnamen di Indonesia, nanti kami Bantu, dan sebagainnya.”

The New Wave intinya adalah menajamkan segmentasi dan menerapkan prinsip low budget high impact (bujet kecil hasilnya besar).

Omong-omong Pak, berapa target kunjungan wisatawan luar negeri yang dipatok pada 2009?
Menurut prediksi United Nations World Tourism Organization (UNWTO), akibat krisis moneter global yang mulai terjadi pada September 2008, akan terjadi penurunan migrasi wisatawan pada 2009 antara 2-5 %. Bukan hanya Indonesia yang akan menurun, tapi negara-negara lain yang menjadi daerah tujuan wisata, juga akan mengalami penurunan. Karena itu, kami akan realistis membuat target kedatangan wisatawan dari luar, yaitu sama seperti yang sudah dicapai 2008, 6.5 juta kunjungan.

Strategi yang sudah dirancang agar target itu tercapai?
Pertama, harus fokus. Kami akan fokus menggarap pasar Asia Tenggara, Jepang, Korea, Australia, bukan berarti Eropa dan Amerika kami tinggalkan. Kami tidak akan menembak burung dengan peluru membabi buta ke mana-mana. Kami sekarang akan membidik burung dengan satu peluru. Ke Amerika kami hanya akan menunjukkan bahwa kita eksis.

Kedua, melakukan segmentasi promosi yang mengarah ke komunitas. Komunitas-komunitas ini lebih gampang didatangi, misalnya di saat komunitas itu mengadakan pertemuan internasional, yah kita datangi mereka.

Ketiga, mengembangkan sarana promosi yang sangat disesuaikan dengan segmentasi-segmentasi kecil. Kalau kita promosi ke Korea misalnya, yang kita bidik adalah wisata wedding dan honeymoon, tidak lagi kita menjual pantai. Tapi kalau ke Malaysia, yang dijual adalah Bandung untuk shopping, bukan Bali yang kami jual ke Malaysia. Kalau ke Australia, pantai yang dijual, bukan wedding.

Kalau menjual kesenian?
Oh, kesenian itu harus ke Eropa. Luar biasa apresiasi mereka terhadap kesenian!

doddi@jurnas.com



---------------
Biodata singkat
RIWAYAT HIDUP

Nama : I Gde Pitana, Prof. Dr. Ir. M.Sc.
Tempat dan tgl lahir : Tabanan (Bali), 04 Agustus 1960
NIP : 131475036
Pangkat : Pembina Utama Madya (Gol.IV/d)

Jabatan Akademik : Guru Besar dmk Pariwisata
Jabatan Struktural : 1. Direktur Promosi Luar Negeri, Depbudpar RI.
Pekerjaan : 2. Dosen tetap pada Jurusan Sosial – Ekonomi, Fakultas Pertanian, Universitas Udayana (Maret 1985 – sekarang)

PENDIDIKAN
Tahun Pendidikan

1993 -1997 Program S3: Department of Social Anthropology, the Australian National University, Canberra , Australia.
Konsentrasi: Bali dan Perubahan Sosial / pariwisata (Ph.D).
1987 -1989 Program S2: Depatment of Sociology and Anthropology, Aeneo de Manila University, Manila, Filipina.
Konsentrasi: Sosiologi Pembangunan / Irigasi (M.Sc.Soc.Dev.).
1979-1983 Program S1: Jurusan Sosial Ekonomi, Fakultas Pertanian, Universitas Udayana, Denpasar. Konsentrasi: Sosiologi Pedesaan/Irigasi (Ir).



PENGALAMAN KERJA


Tahun

Pekerjaan / Jabatan
2005 – Sekarang Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kepariwisataan, Badan Pengembangan SD Budpar, Depbudpar RI
2006 (Januari) Guest Lecture pada Graduate Program on “ Leisure, Tourism and Evironment”, Wageningen University, Wageningen, Belanda.
2005 (16 Feb-31 Des) Kepala UPBJJ Universitas Terbuka, Denpasar
2004 Visiting Fellow, Research school of Pasific and Asian Studies, the Australian National University.
2001-2004 Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali
2004 – 2008 Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kepariwisataan, Depbudpar RI.
2008 - Sekarang Direktur Promosi Luar Negeri, Direktorat Jenderal Pemasaran, Depbudpar RI.

NASIRUNISME

TEKS DAN FOTO DODDI AHMAD FAUJI


Energi endurance yang dimilikinya, membuat Nasirun terus melahirkan karya kreatif secara maraton. Ia menjawab tuduhan ‘digoreng’ dengan berkarya secara garang.

“Mungkin benar, saya harus membuat candi,” kata Nasirun. Malam sudah tiga jam beranjak jadi pagi pada 19 Januari 2009 itu, membuat imajinasi kami makin kreatif, atau makin melantur?

Entahlah, namun yang jelas, Nasirun, pelukis kaya dan raya namun selalu tampil bersahaja itu, setuju pada saran saya.

Setelah melihat-lihat dokumentasi lukisannya yang menggunung di gudang, di kediamannya, perumahan Kalibayem, Bantul, Yogyakarta, saya tiba-tiba terprovokasi untuk memprovokasi Nasirun supaya tidak membuat museum. Membuat candi akan lebih mengukuhkan kekuatan Nasirun yang sudah kokoh.

Nasirun, perupa kelahiran Cilacap, 1 Oktober 1965 itu, memang seniman yang kuat dan kokoh dalam soal produktivitas, kreativitas, pun dalam soal ‘ngeyel’-nya membentangkan jarak dengan kemewahan. Meskipun ia sudah jadi milyarder, tapi ia tetap naik motor bebek yang dibelinya sekira 1997. Kalau mau membeli BMW yang pernah dipakai oleh James Bond 007, tentu Nasirun sanggup.

“Sudah lama saya bercerai dengan benda-benda. Semua barang berharga milik kami, didaftarkan atas nama isteri dan anak saya. Saya menikah dengan sunyi agar bisa melahirkan karya. Kalau tidak begitu, sulit saya berkarya,” kata Nasirun.

“Lalu untuk apa sampean terus melukis dan menjualnya jika tidak bisa menikmati hasil-hasilnya?” saya bertanya.

“Ha ha ha ha … (Nasirun ketawa, sepatah-sepatah). Saya bahagia, kok Mas. Saya terus berkarya karena ingin memberikan kontribusi terhadap kebudayaan.”


Ingin berkontribusi terhadap kebudayaan, tentu menjadi hak semua orang, walau belum tentu menjadi keinginan semua orang. Menurut saya, Nasirun sudah berkontribusi terhadap kebudayaan Indonesia. Karya seni lukisnya, memberi warna dan memperkaya corak seni lukis di Tanah Air.

Dulu, pelukis Soedjojono getol mendedahkan pentingnya menacri élan vital nasionalisme dalam karya lukis, seraya menolak lukisan-lukisan moi indie (Indonesia molek) yang diajarkan oleh pelukis-pelukis Belanda. Soedjojono menyeru para pelukis pribumi agar mencari bentuk baru yang sesuai dengan semangat merebut kemerdekaan.

Saat berhadap-hadapan dengan lukisan Nasirun, saya membayangkan, seandainya Soedjojono melihat lukisan Nasirun, mungkin ia akan berujar, “Nah, ini contoh lukisan yang saya maksud.”

Dekade 70-an, beberapa seniman Indonesia dari berbagai genre, beramai-ramai kembali menengok tradisi sebagai sumber perciptaan karya. Rendra, Sutradji Calzoum Bachri, Arifin C. Noer (alm), Sardono W. Kusumo, Abas Alibasjah, Nyoman Gunarsa, adalah contoh seniman-seniman yang mengukir kreativitas dengan bahan baku seni tradisi.

Dalam jagad seni rupa, saya menilai, Nasirun adalah seniman yang berhasil menggubah tradisi menjadi karya yang mengandung semangat kekinian: pokoknya kontemporerlah.

Tentu ada banyak perupa yang menggubah seni kontemporer. Sedikit di antaraya berhasil mengukir nama secara internasional. Juga sedikit di antaranya yang berhasil memberikan kontribusi atau memperkaya khasanah seni rupa Indonesia.

Kebanyakan perupa kontemporer adalah epigon dari luar, adalah seniman yang terperangah melihat karya seni rupa Eropa dan Amerika, dan sebagai anak bangsa yang mewarisi mental terjajah, ia kemudian meniru karya dari luar itu. Nasirun, bukan dari golongan seniman latah ikut-ikutan meniru Barat. Karena itulah, saya katakan sekali lagi, bila Soedjojono masih hidup, mungkin ia akan menahbiskan Nasirun sebagai pelukis yang nasionalistis, bahkan njawani (sangat Jawa).

Disebut sangat men-Jawa, karena akar seni rupa Jawa klasik sangat melekat erat pada lukisan-lukisan Nasirun. Hal itu dapat dilacak pada warna yang dipilih Nasirun, yang kental aura agraris. Juga corak batik, jangan lupa Nasirun pernah membatik untuk bertahan hidup, menjadi latar di banyak stilistika lukisannya.

Adapun figur yang banyak diangkat oleh Nasirun, kita tahu, berangkat dari mitos-mitos yang hidup di tanah air kita. Untuk itu, bila Anda bertanya kepada kolektor Oei Hong Djien, siapa pelukis Indonesia yang terasa sangat Indonesia banget, tidak perlu kaget kalau salah satu seniman yang disebut namanya adalah Nasirun. Juga ketika saya bertanya kepada Hong Djien tentang hal itu, tester tembakau itu menyebut nama Nasirun di urutan pertama.

Bagaimanapun Oei Hong Djien adalah salah satu patron kolektor seni rupa di Indonesia. Beberapa kolektor yang sekarang di antaranya mendirikan galeri seni rupa, bisa disebut sebagai murid Oei Hong Djien. Nah, di akhir dekade 90-an, ada pecinta seni pendatang baru, bertanya kepada Oei Hing Djien, karya siapakah yang menurut Anda bagus dan layak untuk dikoleksi? Oei Hong Djien menyebut nama Nasirun.

Lalu ia memborong lukisan Nasirun, membuat seniman berambut kriwel-kriwel ini langsung kaya dan raya. Harga lukisannya melambung pula. Peristiwa ini segera menjadi buah bibir di jagad seni rupa Indonesia, dan beberapa orang yang terlibat dengan seni rupa, karena masih kaget, dengan spontan menyebut Nasirun digoreng.

Nasirun tidak bisa menulis, bicara juga kurang pandai. Ia tidak bisa membela diri, kurang lincah berargumentasi. Ia diam saja. Tentu dalam hati, ada perasaan yang ingin meledak. Dan, ia meledakkannya lewat kreativitas dan produktivitas. Segara ia kawin dengan kesunyian, melupkan gemuruh yang terjadi di luar.

Di studionya lahirlah karya yang mencengangkan, secara ukuran maupun corak, tema maupun bentuk. Maka pantas bila kurator Jim Supangkat ikut terpikat, dan secara istimewa turut membawa karya Nasirun ke dalam proyek internasionalisasi karya seni visual ndonesia. Bertempat di Galeri Nasional Indonesia, Jim memamerkan karya berjuluk Un[real], dengan mengedepankan karya Affandi, Nasirun, Entang Wiharso, dan Putu Sutawijaya.

Karya Nasirun memang Ok! Saya memprediksi, suatu hari kelak, bakal banyak seniman yang terpengaruh oleh gaya dan semangatnya, sehingga lahirlah aliran baru dalam proses penciptaan karya seni, aliran baru yang tidak mengenal letih, dan aliran baru itu ingin saya namai: Nasirunisme.

BIODATA
* Nama : Nasirun
* Tempat, tanggal lahir : Cilacap, 1 Oktober 1965
* Pendidikan : Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Yogyakarta
* Istri : Illah
* Anak-anak:
1)Ima Bunga Insan Sani
2)Yudistira Nurul Azmi
3)Nawarna Ratna Mutu Manikam

* Penghargaan:
- Juara I dan II Porseni Se-Karesidenan Banyumas
- Juara II Lomba Lukis Promosi Wisata Kabupaten Cilacap
- Juara II Lomba Kaligrafi
- Juara II Lomba Lukis Celengan Dies Natalis Sastra UGM
- Sketsa dan Seni Lukis Terbaik ISI Yogyakarta
- Peraih McDonald’s Award pada Lustrum Ke-10 ISI Yogyakarta.
- Peraih Philip Morris Award 1997

* Pameran Tunggal:
- Debut pameran tunggal di Mirota Kampus Godean Yogyakarta, tahun
1993.
- Ngono Yo Ngono, Mung Ojo Ngono (Galeri Nasional Indonesia, 1999).

Tuhan dalam lukisan: God in Painting


Perupa Ikay Khairudin berusaha mencari yang asali di antara yang artifisal, bersikukuh menangkap esensi di tengah campur-baur multikultur, dan bertahan dalam ketenangan ketika laku peradaban kian agresif.

Pembawaan Ikay tampak low profile. Ia bukan dari kategori seniman yang suka meledak-ledak. Caranya menerangkan karya ketika saya tanyai ini atau itu, nampak tenang namun kukuh dalam kepercayaan diri. Anak Bandung kelahiran Jakarta 1980 ini, bisa diibaratkan seperti arus air yang lamban di permukaan, namun menderas di dasar. Menghanyutkan. Maut!


Karakteristik Ikay itu, dapat diresapi pada karya-karya lukisnya yang nonfiguratif, yang dipemerankan secara tunggal di Bale Seni Kamandalu Resort and Spa, Ubud, Bali, pada 17 Oktober – 8 November 2008. Dikemas dalam tema Cutting, pameran tunggal Ikay yang ditaja oleh Tangkas Gallery itu, dikuratori oleh Arif Bagus Prasetyo. Ini adalah pameran tunggal ketiga Ikay. Tahun 2005 Ikay menggelar pameran tunggal perdana dengan juluk Psikoteror.

Ikay, sebagaimana juga kita yang mengisi masa kini, adalah manusia yang sedang berhadap-hadapan dengan perubahan deras nan liar, yang telah membuat manusia makin merasa asing dan sunyi, hampa dan tandus, kesepian dan teralienasi dari keakraban, kehangatan, kekeluargaan. Kita sedang tercerabut dari tatanan terdahulu yang terasa tentram dan adem-adem saja. Ada segelintir orang yang berusaha tidak tercerabut keseluruhannya oleh perubahan. Ikay adalah salah seorang yang sedang berusaha itu.


Upayanya itu, pada mulanya, didedahkan melalui penumpahan cat dengan teknik rembesan yang menitis alamiah mengikuti gravitasi bumi, mencerminkan seorang yang sedang mengalir mengikuti arah perubahan.

Namun pada beberapa bagian, Ikay menggunakan pisau palet untuk mengerok cat yang sudah ditumpahkannya, hingga terbentuklah bidang-bidang kubistik dengan gradasi warna yang tak beraturan, juga irisan-irisan yang tercipta tanpa disengaja. Saya menduga, teknik besutan pisau palet seperti itu, merupakan refleksi seorang yang tiba-tiba tersadarkan betapa ia telah cukup hanyut mengikuti perubahan. Dan ia diingatkan, jangan merembes terus mengikuti perubahan. Berhentilah sejenak. Stakato.

Kemudian dipertegas, hasil ekpresinya dengan teknik rembesan dan besutan pisau palet itu, yang membentuk gambaran tidak beraturan, tidak karuan, di-block- lagi pada beberapa bagian, atau dihapus kembali dengan menggunakan satu warna cat. Kebanyakan cat warna putih yang dipilih Ikay untuk menge-block hasil ekspresinya. Tapi ada juga warna ungu, krem, atau biru langit muda yang dipilihnya.

Mengapa Ikay harus menge-block kembali hasil ekspresinya, bahkan diantaranya diulang-ulang hingga 9 kali? Mengapa pula harus 9 kali?

Saya menduga, telah terbit fajar kesadaran spriritual dalam diri Ikay. Setelah mengalir mengikuti arus perubahan, Ikay merasakan adanya laku dan karakter baru yang terbentuk akibat bergaul dengan perubahan. Karakter baru itu, dirasa kurang mewakili perasaannya yang paling kanan, paling murni sebagai manusia. Karena itu, harus di-block kembali dengan warna elementer yang tunggal, yang kebanyakan menggunakan warna putih, di mana putih diyakini mewakili kesucian.


Lukisan Ikay mengingatkan saya pada pernyataan tulus seorang Napoleon Bonaparte menjelang akhir hayatnya. Napoleon berujar, di atas segalanya pastilah ada sesuatu yang agung, dan yang agung itu pasti hanya satu. Lebih dari satu, tidak lagi agung.

Sesuatu yang agung pastilah yang hakiki, yang esensi, yang asali. Sesuatu yang agung akan tampil melebihi tataran yang profan, akan terasa melampaui wujud yang material, bahkan melintasi batas yang maya. Sesuatu yang agung tidak cukup dijelaskan dengan kata. Karena itu, para seniman berusaha menggubah tamsil untuk menjelas-tegaskan keagungan kepada publik.

Berabad-abad para seniman berusaha menangkap dan mendokumentasika citra imajis dan pesan magis dari yang disampaikan oleh sesuatu yang agung itu. Apa yang disodorkan oleh keagungan, pastilah memukau. Keagungan itu sendiri, sudah merupakan pukauan. Kali ini, pada pameran tunggal yang ketiga, Ikay tampil dengan pukauan. | doddi@jurnas.com dan wening@jurnas.com



==============================
Visual artist Ikay Khairudin attempts to find the authentic among the artificial, persists in capturing essence amid multicultural melange and maintains serenity while civilization is increasingly aggressive.



Ikay seems to be of a low profile personality. He does not belong to the kind of artists of an explosive behavior. The way he explained his work when I asked him about this and that was rather calm, but self-confident. This young man from Bandung, who was born in Jakarta in 1980 can be depicted as a stream which is slow at the surface, but with a rapid undercurrent. Carrying us away. Deadly!

This character of Ikay is perceivable in his non-figurative works presented in his solo-exhibition at Bale Seni Kamandalu Resort and Spa, Ubud, Bali from 17th October to 8th November 2008. Under the title Cutting, the solo exhibition sponsored by Tangkas Gallery is curated by Arif Bagus Prasetyo. This is Ikay's third solo-exhibition. His first was in 2005, entitled "Psikoteror".

Ikay, like each of all of us today people, is facing rapid and unleashed change, which has made humans feel isolated and lonely, void and barren without any warmth or friendliness, alienated from familial association. We are right now being uprooted from a previous order that was peaceful. A handful of people try not to be entirely uprooted by change, and Ikay is one of them.

This effort is manifested, in the beginning, by pouring paint and letting it drip and trickle down naturally, in accordance with the earth's gravitation, reflecting someone who is going with the flow of change.

But at some places, Ikay uses the palette knife to scrape off the paint he has poured, shaping cubistic parts with random color gradation as well as accidental sections. I assume that this palette knife technique reflects someone who suddenly realizes how he has been quite much carried away by change. And something reminds him not to always just go with the flow of permeating change. Stop a moment. Staccato.

The result of the pouring and dripping and cutting technique, which is a chaotic image, is then covered at some parts, or wiped out, by certain single colors, predominantly white. Although Ikay also uses purple, beige, or light blue.

Why does Ikay have to cover some parts of his expression, and in some cases even to repeat the covering nine times? And why does it have to be nine times?

I think spiritual consciousness has dawned in Ikay. After going with the flow he realizes the emergence of a new character and attitude resulting from his exposure to change. He senses that the new character doesn’t appropriately represent his most noble and pristine human feelings. This renders the washing with single elementary colors necessary; and white is applied in most cases since it is regarded as representing the holy.

Ikays paintings remind me of the confession of a Napoleon Bonaparte before his death. Napoleon said, that above all there must be something sublime, and the sublime can only be one. If there is more than one, they cease to be sublime.

Something sublime must be essential and authentic. Something sublime present itself beyond the profane, it has the sense of transcending the material, and even going beyond the illusory and virtual. The sublime cannot be described with words alone. Therefore, artists engage in composing metaphors to illustrate and elucidate the sublime to the public.

For centuries artists have been making efforts to capture and document images and magical messages of the sublime. Whatever the sublime offers must be fascinating. The sublime itself is fascination. This time, in his third solo exhibition, Ikay presents himself with fascination. | doddi@jurnas.com dan wening@jurnas.com


Translated by Landung Simatupang
Naskah asli dipublikasikan Majalah Arti edisi 10, masa edar November - Desember 2008

perbincangan dengan martin aleida

Kita memang bisa menulis apapun

Martin Aleida memilih meninggalkan kantor jurnalistik yang sudah mapan, dan siap melarat untuk berkarya.

Ia belajar menjadi wartawan dengan menulis cerpen. Setelah menjadi watawan, ternyata tidak bisa produktif lagi menulis karya sastra. Itulah dia Martin Aleida. Kini Martin sudah tidak menjadi wartawan, dan kembali menulis karya sastra, sekalipun harus melarat.
Bagaimana pergulatan hidupnya, dan penilaiannya terhadap karya sastra kita saat ini, berikut petikan wawancara yang berlangsung di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Rabu 18 Juli 2007 lalu.

Bagaimana awal Anda bersentuhan dengan sastra dan jurnalistik?

Karena saya membaca karya HAMKA, juga karya Pram (Pramoedya Anantatoer –red). Saya menulis cerpen (cerita pendek) ketika kelas 2 SMA, tahun 1962, itu sebelum tragedi G30S/PKI. Saat itu di Medan, ada Koran namanya Indonesia Baru yang setiap hari memuat cerita pendek, di Jakarta ada Harian Indonesia yang juga memuat cerpen setiap hari. Karena tiap hari, seleksinya tidak ketat. Jadi, para pemula memiliki kesempatan karyanya bisa dimuat. Karya saya banyak dimuat di sana. Tidak ada honornya waktu itu.
Cerita pendek di sana tidak seperti sekarang, ada pembatasan karakter. Di sana, cerpen bisa panjang, dan pemuatannya bisa bersambung sampai tiga hari.

Saya juga aktif berteater. Saya pernah main di Gedung Kesenian Jakarta dan PGRI, tahun 1964. Grup taeter itu datang ke Jakarta, dan saya ikut main. Naskahnya Si Nandang, berdasarkan cerita rakyat. Ditulis oleh Emha, singkatan dari Ebrahim Hamid, yang meninggal di Belanda. Emha ini juga mengaransir musik tradisional, dan begitu popular. Ada kelompok musik yang suka diundang ke Istana, memainkan aransemen Emha, dan Presiden Soekarno suka setengah mati.

Kelanjutannya?

Tahun 1963, saya pindah ke Jakarta. Saya menjadi anggota redaksi majalah kebudayaan Zaman Baru. Tidak sampai setahun. Kemudian saya kerja serabutan. Lalu menjadi wartawan Harian Rakyat. Hampir setengah tahun saya meng-cover kegiatan Presiden, dari Januari sampai Juli 1965. Pada usia 23, saya sudah meliput kegiatan Presiden. Anda bayangkan, tanpa persiapan yang matang, hanya seorang lulusan SMA. Alasannya bisa diterima, karena kami suka menulis, itu saja. Alasan lain, pada waktu itu, kalau orang datang dari daerah yang berbahasa Melayu, kalau mau melamar jadi wartawan, itu sudah mendapatkan jaminan. Dari Sumatra, lebih mudah jadi wartawan.

Setelah meliput Presiden, saya mengikuti pelatihan Jurnalistik di Semarang, kemudian terjadi peristiwa itu. Pendidikan tidak selesai, kacau, dan bubar. Saya masuk lagi ke Jakarta setelah 2 Oktober 1965. Koran sudah ditutup. Semua orang menyelamatkan diri, termasuk saya.

Tapi saya ditangkap, awal 1966. Setengah tahun saya ditahan. Terus terang, saya mujur. Saya tidak sampai dipukul, tidak dikirim ke Salemba, atau ke Pulau Buru. Saya kira itu keajaiban, miracle. Kami ditangkap enam orang. Ada teman, naman ya Putu Oka Sukanta, babak belur dihajar, karena dalam kantong dia ada surat korespondensi dengan teman di Lekra. Ia dicurigai ada hubungan dengan PKI.

Di kantong saya, yang ada adalah surat dari pacar, dan surat wasiat dari orang tua saya yang mau naik haji. Waktu itu, kalau mau menunaikan haji tidak seperti sekarang, membutuhkan waktu tiga bulan dan harus siap mati. Saya menerima wasiat, sebagai anak, saya akan menerima bagian di sini, tanah di sini. Intrigatornya jadi bingung, sebab pada waktu itu, simpatisan PKI selalu dituding ateis. Ini kok ada simpatisan yang orang tuanya mau naik haji. Saya jelaskan, tak ada hubungan antara agama dengan kepercayaan politik. Dan, ini menjadi miracle yang membuat saya dikeluarkan dari tahanan.

Saya bersyukur tidak sampai dipukuli, tidak dikirim ke Pulau Buru, atau ke penjara Salemba.

Di mana memang ditahannya?

Jejaknya sudah tidak kelihatan. Ada namanya Kodim 0501, letaknya sekarang itu di belakang gedung Bank Indonesia. Di seberangnya, ada sekolah tua, milik katolik, nah di situlah camp konsentrasi.

Hiburan kami satu-satunya adalah, bisa duduk di taman bekas sekolah itu. Tak jauh dari situ, di jalan Budi Kemuliaan, itu kan ada rumah sakit bersalin. Tiap sore, kami melihat ibu-ibu yang memeriksakan kehamilannya ke rumah sakit bersalin itu. Nah, itulah hiburan kami satu-satunya. (Martin tertawa mengenangkannya).

Kembali ke Bung Karno, yang terkesan saat Anda meliput Bung Karno?
Bung Karno itu sangat hangat. Bersahabat dengan wartawan. Bung Karno itu memiliki semacam gentlemen agreement dengan wartawan. Bung Karno suka mengundang wartawan untuk ikut makan. Kami pernah diundang makan dengan tamu. Di ruang makan, duduk Bung Karno, di sampingnya Titiek Puspa, kemudian pemilik rekaman kaset, namanya Yose kalau tidak salah. Ada Komisris Besar Polisi Sumirat, ada ajudan perempuan dari angkatan laut, lalu saya di sampingnya. Ajudan ini ngajak saya ngobrol terus. Akhirnya Bung Karno menegur. “Eh, sudah lama kalian kenal?” Saya jawab, “tidak baru kenal.” Lalu Bung Karno tertawa kecil. Tapi setelah itu, kami tidak ngobrol lagi. Kami makan dengan tenang.

Bung Karno itu sarapan dengan memakai kaos oblong, tidak pakai peci. Nah, dia tidak boleh dipotret dalam keadaan seperti itu. Kalau Anda baca autobiografi dia, di situ disebutkan, seorang Presiden, haruslah kelihatan dia seorang Presiden. Dan kami, artinya wartawan terutama fotografer, tidak mau mendeskripsikan keadaan Bung Karno seperti sedang berkaos oblong.

Apa Bung Karno pernah marah kepada wartawan?

Tidak, Bung Karno tidak pernah marah kepada wartawan. Dia hanya menyampaikan kritik pada umumnya ketika beliau berpidato. Misalnya menemukan kata-kata asing, baik Inggris maupun Belanda, ditulis tidak benar oleh wartawan, itu dia kritik, dan membenarkan spelling atau grammar-nya. Maklum, waktu itu kebanyakan wartawan kurang akurat menuliskan bahasa asing, dan mungkin readakturnya juga kurang bisa mengoreksi teks berbahasa Inggris atau Belanda.

Setelah keluar dari tahanan?

Wah itu luar biasa. Apa saja kami kerjakan. Hanya menjadi tukang becak yang tidak pernah saya lakukan. Kenapa, karena semua becak sudah ada penariknya. Saya menjual bensin di pinggir jalan, berdagang di Pasar Baru yang dikejar-kejar polisi. Menjadi pelayan di restoran Padang. Waktu ada festival HMI yang diselenggarakan di kantor pos seberang Pasar Baru, saya menjadi pelayan. Anda bayangkan, bagaimana dibentak orang.

Setelah kerja serabutan?

Saya diberikan pekerjaan oleh JS Hadis, dia Sekretaris Jenderal PWI Pusat dan wartawan Berita Yudha. Dia bilang mau buka toko di Pasar Jembatan Lima. Dia bilang, kau yang jalankan, dengan gaji waktu itu perhari 250 rupiah. Saya bilang, okay! Saya bilang sama JS Hadis, Goenawan Mohammad (GM) mau buka majalah baru, saya mau coba melamar. JS menyetujui. Saya sudah kenal dengan GM. Saya datangi dia, “Mas saya mau bergabung.” GM menjawab, “Okay masuk.” Saya masuk ke Tempo tanggal 15 Januari 1971 sebelum majalah ini terbit 6 Maret 1971. Saya di Tempo selama 13 tahun, sampai 1984. Majalah ini maju pesat. Oplah pertama hanya 12.500. Oplah kedua, bulan berikutnya, sudah naik 25.000.

Kenapa berhenti dari Tempo?

Ya, Anda tahulah kerja di jurnalistik. Mula-mula semua sepaham. GM bilang, cita-cita kita dalam jurnalistik sama. Tapi begitu majalah maju, mulailah timbul friksi, dan like or dislike. Waktu dikasih mobil misalnya, itu ditentukan sesuai jabatan, bukan dari fungsi. Syubah Asa misalnya, karena dia dibelikan Hartop, akhirnya harus nombok tiap bulan.

Saya mulai stress dan gila. Mobil saya pakai dua hari dalam seminggu karena biaya bensinnya mahal. Saya suka lari dari tempat tinggal di Depok ke kantor Tempo di Proyek Senen. Waktu itu, UI dan Margonda belum ada di Depok. Enak sekali waktu itu. Lari di Depok sampai Pancoran, dan di Pancoran belum ada jalan tol. Kita bisa lari di tengah jalan yang sunyi, dengan rumput-rumput yang tinggi, tumbuh di tepi jalan. Yang menyiksa, ketika mulai masuk ke Jl. Kuningan, barulah stress. Jalanan mulai macet. Saya pernah meng-cover kegiatan Marathon di tol Jagorawi sejauh 45 KM, saya ikut jadi peserta karena saya stress menghadapi kantor.

Selesai dari Tempo?

Saya bekerja setahun di TV NHK milik Jepang. Selesai dari NHK, saya dipanggil oleh kantor penerangan PBB untuk bekerja di sana. Karena bos saya orang Jepang, dan saya pernah kerja di NHK, dia pikir saya mengerti mentalitas orang Jepang. Ternyata bos saya di kantor berita PBB ini gila kerja. Tapi dia memberikan pelajaran yang luar biasa. Kantor masuk jam 7 pagi, dia sudah ada dan bekerja. Kami pulang jam setengah delapan malam, dia masih bekerja. Apa yang dia kerjakan? Harus diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dia tidak bisa bahasa Indonesia. Nah saya kebagian. Mati!

Dia tidak mengerti bahasa Indonesia, tapi bisa menemukan kesalahan terjemahan kita. Penemuannya bukan pada bahasa, tapi pada tanda baca. Misalnya, kalau saya menerjemahkan United Nations menjadi Perserikatan Bangsabangsa tanpa strip, wah dia akan ngamuk, memusuhi saya selama dua hari.

Dia bilang, “Kalau kalimat ini tanda bacanya salah, berarti ini kalimat yang salah. Saya tidak bisa bahasa Indonesia, Tapi yang begini saja sudah salah, pasti banyak yang salah dari terjemahan kamu ini.”

Waktu saya disuruh bikin press release, saya membuat draf di kertas baru. Di manapun, termasuk di Tempo, pastilah pakai kertas baru. Tapi dia marah, dan bilang kalau bikin draf bikinlah di kertas bekas. Dia sendiri, memperlihatkan ke saya, kalau membuat draf itu terkadang di bungkus rokok. Dia bilang, “ini pemborosan. Gunakan kertas bekas!”

Sesudah itu?

Saya pensiun dari kantor PBB tahun 2001. Saya pikir, saya terlalu lama bekerja untuk di luar diri saya. Sudah waktunya saya bekerja untuk diri saya, biarlah saya melarat. Saya kembali lagi menulis. Tahun 1969, tiga cerpen saya dimuat di Majalah Horison. Tapi setelah bekerja di Tempo, saya tidak bisa menulis lagi. Untuk melatih menulis, saat itu bekerja di Tempo sangat tepat, karena saat itu banyak penulis. Sebenarnya sejak 1998 saya kembali lagi menulis karena waktunya memungkinkan untuk menulis tema-tema yang saya sukai.

Penilaian Anda terhadap karya sastra kita saat ini?

Kesusastraan kita tetap bergerak. Tapi ada yang saya sesalkan, banyak sastrawan terutama esais, tidak berpijak pada bumi dia. Mereka terpesona, katakanlah oleh realisme magis dari Amerika Latin. Saya tidak anti pada bacaan. Saya juga membaca. Apa yang mereka baca, saya baca juga, tapi mungkin jumlahnya lebih sedikit.

Tetapi masalah Amerika Latin dengan masalah kita itu lain, kondisi sosial politiknya berbeda. Ini yang namanya tidak berpijak pada dunia sendiri. Kita punya masalah sendiri, ini yang diabaikan oleh sastrawan kita, terutama kritikus, esais, dan penulis prosa. Mereka cenderung menjadi pengekor, epigon dari kecenderungan kesusastraan di Amerika Latin. Misalnya Gabriel Garcia Marquez, Paolo Coelho. Mereka terpesona. Tapi kalau Anda perhatikan kesusastraan kita, Chairil misalnya, dia juga epigon dan tidak orisinal. Tapi kita hormati dia karena bagaimanapun dia membawa semangat baru dalam perpuisian kita. Ini yang saya sayangkan.

Selain itu?

Ada kalangan tertentu yang saya kira menampilkan kesusastraan yang bukan esensi dari permasalahan sosial kita. Atau mungkin mereka tidak peduli dengan perkembangan sosial yang terjadi di luar diri mereka. Misalnya, mereka berbicara masalah sastra dan sex. Pertanyaan saya, apa yang dicapai dengan tema-tema ini. Mereka hendak membebaskan diri dari masyarakat yang luas. Pertanyaan saya, diri yang mana?

Sekarang sedang hangat polemik sastra dan sex, komentar Anda?
Saya tidak mau terlibat dalam polemik itu, sebab bagi saya itu bukan esensi dari kesusastraan yang harus kita sumbangkan kepada masyarakat.

Ada tuduhan, seseorang tekah mengklaim diri sebagai nabi tapi tanpa wahyu. Tuduhan itu menarik, tapi apakah ini masalah sastra kita. Sama dengan kebebasan pers dan kebebasan berkarya, kita memang bisa menulis apapun. Tapi kita pada akhirnya harus memilih, Anda menulis untuk siapa? Pilihan ini menjadi konsekuensi dari latar untuk kita berkarya.

Yang belakangan ini muncul adalah pemaksaan estetika dari kelompok tertentu kepada kelompok yang lebih luas. Menurut saya, ini sama bahayanya dengan totalitarianisme.

Salah satu yang berperan mewarnai sastra adalah redaktur media massa, bagaimana menurut penilaian Anda?

Redaktur media massa sudah bekerja dengan baik. Tapi yang merisaukan, lahirnya komunitas-komunitas yang ingin menyebut lebih unggul dari yang lain. Bahayanya, adanya upaya dari komunitas itu untuk menunjukkan yang terbaik, dia melakukan manipulasi. Jadi karya seseorang dikerubutin supaya kelihatannya baik, dan memang baik, tetapi sulit mempertanggungjawabkannya.

Kalau cerita Anda misalnya diperbaiki oleh seseorang, terus Anda mau, maka Anda akan sulit mempertanggungjawabkannya, karena itu sudah ada intervensi orang. Namun, demi kehebatan dari komunitasnya, itu dilakukannya. Nah, sayang memang, di media massa tertentu, ada juga redaktur yang ikut melakukan intervensi. Namun, secara menyeluruh media massa sudah turut mendukung perkembangan sastra.

Ada kans sastrawan kita mendapat hadiah Nobel?

Kans selalu ada. Tapi kalau pertumbuhannya seperti ini, sulit rasanya. Panitia di sana kan tidak akan menghargai karya epigon. Bukan malasah bahasanya, tapi pada karyanya. Suka atau tidak suka, Pram menulis dalam bahasa Indonesia, tapi diterjemahkan ke berbagai bahasa. Itulah realitasnya.

Nama : Martin Aleida
Lahir : Tanjung Balai, Asahan, Sumatra Utara, 31 Desember 1943
Pendidikan : - SMA Tanjung Balai, 1963
- Studi Linguistik, George Town University, Washington DC, 1982
Pekerjaan :
- Wartawan majalah kebudayaan Zaman Baru, 1963
- Wartawan Harian Rakyat, 1965
- Wartawan Majalah Tempo, 1971 – 1984
- Wartawan NHK Jepang, 1984 – 1985
- Kantor Penerangan PBB (UNIC) Jakarta, 1985 – 2001

Karya sastra:
- Malam Kelabu, Ilyana dan Aku, 1998 (kumpulan cerpen)
- Layang-layang Itu Tak Lagi Mengepak Tinggi-tinggi, 1998 (novelette)
- Leointin Dewangga, 2003 (kumpulan cerpen)
- Jamangilak Tak Pernah Menangis, 2003 (novel)
Penghargaan:
Dari Pusat Bahasa untuk kumpulan cerpen Leontin Dewangga, 2004
Dari Do Karim, Aceh, 2005.

edisi cetak termuat dalam tabloid jurnal nasional minggu, edisi berapa saya lupa

perbincangan dengan harry a poeze

tan malaka, siapakah dia

SEMASA Orde Baru berkuasa, nama Pahlawan Nasional Tan Malaka (TM), nyaris tidak terdengar. Juga bukunya yang fenomenal, Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika) ikut tiarap. Itu terjadi, karena ia seorang tokoh kiri kaliber internasional. Sementara kata “kiri” yang seringkali diasosiasikan kepada komunisme membuat rezim Orde Baru alergi.

Namun setelah reformasi, nama TM kembali mengemuka. Madilog kembali diterbitkan. Juga buku yang mengulas sosok serta pemikiran TM, lahir satu dua judul. Di Belanda, diam-diam sejarahwan Harry A. Poeze melakukan penelitian. Ia melanglang sampai keempat benua untuk mendapatkan data dan fakta yang abash tentang TM.

Hasil penelitiannya selama 30 tahun itu, ia bukukan dalam tiga jilid yang ketebalannya mencapai 2.200 halaman. Buku itu diberinya juluk Verguisd en vergeten, Tan Malaka, de Linkse Beweging en de Indonesiche Revolutie, 1945 – 1949 (Tan Malaka, Dihujat dan Dilupakan, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia 1945 – 1949).
Meski masih dalam bahasa Belanda, rencananya akan rampung diterjemahkan dua tahun kemudian, buku itu akan diluncurkan di Gedung Joang 45, Jl Menteng Raya No 31, pada 30 Juli 2007 ini. Hari Selasa lalu (24 Juli 2007), Harry mampir ke Jurnal Nasional. Berikut petikan wawancara tim Jurnal Nasional dengan Harry.

Bisa diceritakan secara singkat isi buku ini?
Riwayat hidup TM dan pemikiran-pemikriannya saya ulas. Dia orang miskin, hidupnya sederhana. Hanya ada dua kemeja. Dia memang punya emas sedikit, tapi itu akan digunakan dalam keadaan darurat.

Tahun 1922, ia pergi lagi ke Belanda. Di sana, ia dicalonkan menjadi anggota kongres. Satu-satunya orang Indonesia yang dicalonkan jadi anggota kongres, tapi tidak terpilih. TM kemudian ikut menghadiri konferensi partai komunis sedunia di Moskow, ia diangkat sebagai wakil Ketua Komunis Internasional (komintern) untuk kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara. Ia pergi ke China, mondar-mandir ke Filipina, Malaysia, Singapura, Vietnam, Thailand, dan selalu dikejar oleh polisi rahasia Inggris, Belanda, Amerika. Tapi ia berhasil meloloskan diri. Namun hubungan dengan Hindia Belanda sukar sekali. Mengirim surat juga susah sekali.

Revolusi berjalan, dan TM berhasil menyusup ke Indonesia melalui Singapura. Masuk ke Indonesia, tinggal dengan berpindah-pindah tempat. Sempat tinggal di Banten dan menjadi pekerja pertambangan. Di tengah pergolakan revolusi itu, TM menulis taktik yang harus dilaksanakan kaum revolusioner.

Karena simpang-siur berita, TM tak dapat menghadiri pembacaan proklamasi oleh Soekarno Hatta. Adam Malik menulis, ini adalah kesedihan sejarah, sebab tokoh yang begitu hebat pemikirannya, tidak dapat hadir pada momentum penting itu.
TM pernah tinggal di Kalibata, Jakarta Selatan, dan di sana mulai menulis bukunya yang terkenal: Materialisme, Dialektika, Logika (Madilog). Pada mulanya TM menyokong Soekarno Hatta.

Namun, berikutnya TM beda pendapat dengan Soeakrno, Hatta, dan Sjahrir soal perundingan dengan Belanda. TM menolak perundingan, dan memilih perjuangan. Perselisihan ini sangat dalam. Bulan Maret 1946, ada rapat di Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), yang terbagi dua golongan, yaitu antara yang pro diplomasi dan yang pro perjuangan melalui perang. Soekarno dengan licin dan diplomatis berhasil meyakinkan anggota KNIP untuk berdiplomasi dengan Belanda. TM kalah, dan sesudah itu TM ditahan 2.5 tahun tanpa proses pengadilan.

September 1948, TM dilepaskan dari tahanan berkat dorongan PKI. Namun, pada 1948, Muso yang baru balik dari Moskow, dan atas perintah Moskow, mengadakan pemberontakan untuk melawan pemerintah Soekarno Hatta. TM tidak setuju. TM kemudian mendirikan partai kiri baru, yaitu Partai Murba, tapi tidak ada hubungan dengan Moskow. Akhirnya, ia juga harus berseberangan dengan tokoh komunis Indonesia yang lainnya, yaitu Alimin dan Muso yang pro Moskow.

Kisah tentang testament politik Soekarno sangat terkenal, seperti apa sesungguhnya?
Testamen politik itu memang ada. Soekarno menulisnya setelah bertemu empat mata dengan TM, yang menyatakan apabila Soekarno Hatta ditangkap, dan tidak bisa melanjutkan pemerintahan, maka TM menjadi penggantinya. Sebelum ditandatangani Soerkarno, dikoreksi dulu oleh Hatta, sehingga sebelumnya hanya disebutkan satu orang pengganti, yaitu TM, diubah menjadi empat orang, yaitu Tan Malaka, Iwa Kusuma Sumantri, Sutan Sjahrir, dan Wongsonegoro. Hatta mengatakan, Tan Malaka hanya mewakili satu aliran. Harus disebut empat perwakilan aliran dalam masyarakat Indonesia, aliran kiri, aliran sosial demokrat, aliran tradisional, dan aliran Islam. Testamen itu ditandatangi Soekarno-Hatta pada September 1945.

Apa saja kiprah TM?

TM banyak membantu aliran sosialis dan Islam. Sosialisme di Indonesia bisa berkembang karena coraknya yang tidak atheis. Masyarakat Indonesia waktu itu memiliki dasar yang sama, yaitu menolak kolonialis Belanda. Nah, TM melakukan kooperasi antara sosialisme dan Syarekat Islam (SI). Di SI, akhirnya lahir dua aliran, yaitu sayap kanan yang tidak mau bekerjasama dengan komunis, dan yang kiri yang mau bekerjasama. Misalnya Tjokroaminoto, mau bekerjsama, tapi Agus Salim menolak bekerjsama. TM berada di antara keduanya.

Waktu di Moskow, sekitar tahun 1921-1922, saat menghadiri kongres besar partai komunis di dunia, TM pernah berpidato dan bilang, kami harus bekerjsama dengan orang Islam dan nasionalis, karena secara bersama-sama bisa melawan kolonialis Belanda.

Peranan paling penting dari TM?

Jika Anda baca buku Madilog, di situ bisa terbaca, TM adalah seorang intelektual, seorang pemikir politik, seorang Timur yang beragama. Paling utama, pemikiran yang mempengaruhi TM adalah Karl Mark dan Heigel. Ia juga tahu pemikiran Yunani dan Romawi, dan sebagai orang Minangkabau yang dibersarkan dalam kultur Islam, tentu ia tahu pemikiran Islam.

Sudah ada delapan buku yang menulis tentang pemikiran TM di Indonesia. Yang menarik adalah, saya seorang asing, mencoba melihat dengan obyektivitas. Di Indonesia, TM itu tokoh kontroversial. Ada yang bilang, TM adalah orang Islam sejati dan setia. Ada yang bilang, TM adalah pemikir Marksis, sedangkan ucapannya tentang Islam, ia lontarkan karena di Indonesia kebanyakan penganut Islam, dan menolak ateis. Karena itu, TM pun harus mendalami Islam untuk menyelami masyarakat Indonesia. Ada sepektrum dari TM sebagai pemikir Islam sekaligus Marksis. Menurut saya, pengaruh Minangkabau dan Islam memang sangat kuat pada diri TM.

Kenapa TM dan beberapa eksponen komunis saat itu tidak satu pemikiran? Misalnya TM tidak setuju dengan pemberontakan Muso, apakah memang di orang kiri terjadi friksi yang begitu tajam.

Saya kira gerakan kiri di Indonesia memang selalu ada bentrokan antarfaksi. Pernah faksi komunis di Indonesia bersatu, waktu masih harus melawan Belanda. Waktu perang dunia kedua pecah, sekutu (Inggris, Amerika, Belanda) melawan fasisme Jepang. Amerika Serikat dan Rusia belum menjadi musuh. Karena itu, orang-orang komunis membantu Soekarno Hatta dalam upaya memerdekakan Indonesia.

Gerakan kiri pecah, terjadilah perselisihan dan bentrokan. Pernah ada usaha kaum kiri mendirikan partai komunis baru. Tapi dalam musyawarah itu, TM dan orang-orangnya disingkirkan.

Yang melatari perselisihan kiri di Indonesia itu kenapa, rebutan kekuasaan?

Memang di Indonesia ada partai komunis yang dipengaruhi pemikiran Stalin di Rusia, dikontrol oleh Rusia. Tapi TM menerapkan komunis dengan tidak setia kepada Moskow. Partai Komunis di Belanda yang setia kepada Moskow, mengirim beberapa orang, di antaranya Setiajid, Kadarisman, dengan perintah menyingkirkan TM, dan harus didirikan partai komunis yang setia ke Moskow. Juga komunis-komunis yang dibuang ke Australia, yang bisa balik lagi ke Indonesia, misalnya Soegiono, tidak sepaham dengan TM. Mereka menerima perintah dari Partai Komunis Australia untuk menyingkirkan TM. Karena itu, waktu ada kongres mendirikan PKI baru di Indonesia, TM dan pengikutnya disingkirkan dari kepengurusan.

Bulan Maret 1946, TM ditahan oleh Bung Karno, dan pengikutnya disingkirkan dari konferensi PKI baru. Secara ideology, waktu itu memang terdapat perbedaan besar. Partai Komunis Indonesia itu menolak Islam dan peranannya, sedangkan TM dan pengikutnya mengakui peranan Islam.

Mengapa TM bisa diangkat sebagai pahlawan nasional?

Berdasarkan surat keputusan Presiden tahun 1963, TM diangkat sebagai pahlawan nasional. Sejarah menyatakan hal itu. Tetapi Orde Baru menggelapkan TM. Ia menjadi lebih sebagai Marksis. Nama dan peranan TM dicoret dari buku sejarah dan buku ilmiah. Buku TM dilarang oleh pemerintah. Sekarang, mengenai TM mulai diangkat dan dikenang kembali.

Metode apa yang Anda gunakan dalam merekonstruksi sejarah TM, sehingga Anda meyakininya 99% benar?

Ini pertanyaan teoritis yang harus dipikirkan semua sejarawan. Saya mencoba mengumpulkan bahan-bahan dari berbagai pelosok. Saya berkunjung ke empat benua untuk mengumpulkan bahan ini. Saya mencoba menulis sejarah dengan jujur dan obyektif. Ini pekerjaan sukar. Karena itu, dalam buku ini, ada opini dari penulis lain. Dalam epilog saya beri opini saya sendiri.

Saya bukan seorang Indonesia, saya seorang Belandam jadi bisa lebih objektif menulis karena lepas dari tekanan dan kepentingan. Saya harap, dengan pemberian catatan kaki yang sangat banyak, kalau Anda sangsi dan terjadi perselisihan pendapat, Anda bisa membaca sumber yang saya rujuk, atau mendatangi orang yang saya wawancarai.

Bagaimana obyektivitasnya bisa dibuktikan?

Karena itu saya ucapkan kata obyektif dengan tanda kutif dan hati-hati. Sebenarnya, tidak ada buku sejarah yang bisa ditulis benar-benar obyektif. Saya sendiri, latar belakang saya sosial demokrat, bukan komunis. Semua orang komunis saat menulis sejarah, hasilnya selalu buruk, karena ada tendensi kepentingan. Saya kira, buku yang saya tulis akan sukar ditulis oleh seorang Indonesia. TM adalah orang kontroversial, jadi jalau orang Indonesia yang menulis, akan banyak tekanan yang ia hadapi yang sukar dihindari.

edisi cetak termuat dalam tabloid Jurnal Nasional Minggu, tapi saya lupa tanggal berapa, nanti saya cari deh

perbincangan dengan aviliani

Kredit Investasi sedang Menurun

DUNIA perbankan menjadi salah satu institusi yang lumpuh saat krisis mendera mulai pertengahan September 1997 yang lalu. Beberapa bank langsung bangkrut. Pemerintah turun tangan dengan mendirikan lembaga Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) yang bertugas menyelamatkan perbankan. Dana triliunan dikucurkan. Tapi hingga kini, lumpuh perbankan belumlah pulih.

Beberapa perbankan malah masih tertatih-tatih dan belum bisa fokus dalam membidik segmen. Sekarang, ada kecenderungan perbankan ramai-ramai mengucurkan kredit kepada masyarakat untuk membiaya kebutuhan konsumtif, seperti pengadaan kendaraan.
Di tengah kondisi yang masih prihatin, di mana jumlah penduduk miskin masih meruyak, seharsnya masyarakat bisa lebih hemat, dan perbankan harus menyokong gerakan ini. Tapi mengapa perbankan seolah menuntun masyarakat agar makin konsumtif.

Pengamat perbankan Aviliani menjawab hal itu melalui wawancara tertulis beberapa waktu lalu. Berikut petikannya.

Berdasar pengamatan Anda, bagaimana kondisi perbankan kita saat ini?
Bank termasuk industri yang high regulated, sehingga setiap saat operasional bank harus atau wajib mengikuti kebijakan dengan cepat. Kondisi bank saat ini memang secara industri menunjukkan kinerja yang membaik, karena laba yang dicapai meningkat, target kredit 18-20 persen. Hanya saja, memang sebagai lembaga intermediasi belum dapat menjalankan tugasnya dengan baik kalau diukur dari LDR (Loan to Deposit Ratio). Hal ini, karena kondisi sektor riil kita (Indonesia) belum pulih seperti sebelum krisis, sehingga perusahaan besar jumlahnya semakin menurun, dan belum menggunakan kapasitas produksi secara optimal, akibatnya, kredit investasinya rendah.

Kredit di sektor UMKM berjalan sangat baik, bahkan semua bank membidik UMKM, hanya saja jumlah UMKM banyak, namun jumlah pinjamannya (kreditnya) relatif kecil-kecil, sehingga permintaan kredit memang lebih rendah dari dana masyarakat yang terhimpun (dana pihak ketiga). Selain itu, BOPO bank sangat tinggi, karena persaingan ketat antarbank yang akibatnya harus mengeluarkan dana promosi yang besar, dan bersaing menurunkan bunga agar memperoleh nasabah. Selain itu, berbagai peraturan BI yang juga berdampak pada kinerja bank-bank.

Mengapa banyak kredit yang dikucurkan perbankan tidak tepat sasaran, misalnya BRI, mengapa ikut-ikutan di infrastuktur yang beresiko, dan tidak konsisten mendanai UMKM?
Pada dasarnya bank tidak bersifat universal, sehingga melihat pasar dari kredit arahnya ke mana, namun apabila ditanya tentang BRI sebenarnya masih terkonsentrasi pada UMKM. Hal ini tercermin dari rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) setiap tahunnya 85 persen masih pada UMKM. Hanya saja, BRI ikut dalam infrastruktur atau kredit lainnya yang besar (korporasi), hanya mempunyai porsi 15 persen dari total kredit, jadi tidak benar bila dikatakan BRI tidak tepat sasaran.

Juga mengapa BNI ikut-ikutan dalam infrastruktur?
BNI memang dari dulu mengarah pada kredit korporasi. Akan tetapi, saat ini hampir semua bank baik BUMN, swasta, maupun asing mulai mengarah pada kredit UMKM dan juga kredit konsumsi.

Mengapa usaha kecil dan menengah cenderung jalan di tempat, apa karena usaha ini tidak mendatangkan profit yang berlipat, padahal jelas-jelas tahan krisis?
Pada umumnya usaha kecil mikro apabila mereka survive itu sudah mereka anggap berhasil, sehingga mereka enggan untuk melakukan ekspansi. Berbeda dengan perusahaan menengah besar, karena kemampuan manajemennya lebih profesional, maka terus-menerus melakukan ekspansi, baik vertikal maupun horizontal. Sebenarnya, mereka bisa lakukan, karena banyak lembaga, baik lembaga donor asing, maupun dalam negeri yang memberi technical assistent kepada mereka. Tetapi mereka sulit untuk mau berubah. Kalaupun ada, relatif sangat sedikit. Mungkin perlu ada pola kemitraan dengan perusahaan besar, agar usahanya dapat berkesinambungan, atau pemerintah membuat trading house yang mampu menjual barang hasil usaha kecil mikro, serta memberi pengawasan kualitas barang agar dapat diterima oleh negara pengimpor, sehingga ada kemungkinan mereka mau ekspansi.

Akhirnya, bisa disimpulkan, mengapa bank tidak fokus dalam mengucurkan kredit?
Bank bukannya tidak mau fokus, tetapi bank harus mencapai target. Untuk itu, tentu saja dalam implementasinya tergantung kondisi permintaan kredit di pasar, dan tentu saja diperhitungkan tingkat risiko dari setiap sektor. Oleh karena itu, bila fokus pada sektor tertentu, nama investasi dalam satu keranjag sangat berisiko. Juga, tidak ada kewajiban bank harus fokus pada sektor tertentu, atau pada pelaku usaha tertentu. Hanya saja, memang yang perlu diperbaiki di perbankan adalah keahlian dari tenaga marketing dan analis kreditnya, agar mempunyai kemampuan dalam sektor-sektor yang akan didanai, sehingga dapat mengurangi risiko kredit di masa mendatang

Kenapa pula perbankan cenderung lebih mudah mengucurkan kredit untuk pembiayaan konsumtif?
Bank mengucurkan kredit ke sektor konsumtif, karena dana pihak ketiga cukup besar. Di satu sisi, kredit investasi memang sedang menurun, terutama kredit dari korporasi. Akibatnya, bank sebagai perusahaan yang harus memperoleh keuntungan, mencari penyaluran kredit lain. Nah, salah satunya kredit konsumtif yang pasarnya masih besar, dan keuntungan yang diperoleh bank sangat besar, karena kredit konsumtif bunga rata-rata pertahun 36-45 persen, walaupun suku bunga SBI turun, namun bunga dari kartu kredit (kredit konsumsi) masih tinggi, dari sisi risiko, juga tidak terlalu tinggi. Kredit konsumsi lain yang masih banyak pasarnya adalah kredit kendaraan, dan kredit KPR maupun KPA.

Bagaimana awal keterlibatan Anda dengan dunia perbankan, dan mengapa memutuskan untuk terlibat dalam dunia perbankan, sebagai pengamat maupun praktisi?
Pada awal karier saya menjadi dosen di STIE Perbanas, yaitu perguruan tinggi yang dikelola oleh bank-bank swasta nasional, dalam keseharian tentu saja banyak mahasiswa bimbingan yang mengambil skripsi di bidang perbankan, selain itu, pergaulan juga lebih banyak dengan banker, karena pengelola yayasannya adalah banker yang sering mengadakan kegiatan terkait dengan perbankan, dan dosen terlibat.
Keterlibatan saya di INDEF sejak tahun 1997, pun diawali dengan kajian di sektor keuangan dan perbankan, sehingga sering berhubungan dengan BI, perbankan, pasar modal dll. sejak itu, saya tertarik ke sektor perbankan sebagai pengamat.
Akan tetapi, terjun ke dunia perbankan sebagai komisaris, kemungkinan oleh kementerian di fit and proper sebagai komisaris independen bank, karena memang sebagian besar komisaris independen dari kalangan akademisi, ada juga pengamat, yang kebetulan saya sering menulis dan menyampaikan materi seminar terkait dengan masalah-masalah di bidang perbankan.

Keasyikan apa yang Anda temukan di dunia perbankan?
Kalau ditanya soal keasyikan, mungkin saya lebih melihat bahwa sebagai dosen (akademisi) yang harus mengajarkan kepada mahasiswa tentang suatu ilmu, seharusnya bukan hanya terpaku pada text book, tetapi dosen harus mampu memberikan contoh-contoh konkret di lapangan, sehingga dengan masuk sebagai praktisi, banyak yang bisa disampaikan kepada mahasiswa agar mahasiswa pun dapat mempunyai gambaran yang terjadi di lapangan.

Selain itu, sebagai pengamat juga diperlukan menjadi praktisi, agar dapat mengetahui kondisi sebenarnya di bank, baik secara industri maupun perusahaan, sehingga pengamat tidak hanya mengkritik, tetapi juga dapat memahaminya karena berpera pula sebagai pelaku. Hal ini juga, paling tidak, membuat perubahan dalam diri saya dalam menulis, tidak saja mengeritik, tetapi juga memberikan solusi yang lebih implementatif.

Hal lain yang menarik adalah, pada tataran praktisi ternyata tidak bisa semuanya dijalankan secara idealis sesuai teori-teori. Banyak dinamika lingkungan yang mempengaruhi persaingan di dalam perusahaan yang menuntut perubahan berbagai kebijakan dengan cepat. Hal ini membawa saya untuk cepat beradaptasi. Selain itu, kalau selama ini hanya melihat dari luar saja, sekarang justru mendalami pula dari sisi mikro perusahaan. Belajar banyak tentang berorganisasi, baik antar kelompok kerja maupun individu-individu.

Omong-omong, hobi Anda apa?
Travelling, dengar musik, mengisi acara di berbagai radio.

Kesenian, misalnya sastra, musik, atau melukis?
Musik hanya suka mendengarkan saja terutama musik klasik spt Mozard, el Divo. Baca puisi sekali-sekali, termasuk waktu diundang Jurnal Nasional pada hari ulang tahun yang I saya ikut baca puisi.

Nama : Aviliani
Panggilan : Avi
Lahir : Malang,14 Desember 1961
Pendidikan : S1 FE Unika Atmajaya
S2 FISIP Universitas Indonesia
S3 DMB-IPB-Bogor (on Going)
Kerja : - Komisaris Independen PT BRI, tbk
- Peneliti Indef.

perbincangan dengan biantoro santoso


Karakter Galeri Sesuai Selera Pemiliknya
Ada tiga wilayah kerja dalam bidang seni rupa yang sama pentingnya, yaitu wilyah kreasi, mediasi, dan apresiasi. Bidang kreasi menjadi tugas seniman. Bidang mediasi menjadi tugas galeri, museum, kurator, kritikus, promotor, wartawan. Wilayah apresiasi sebagai muara terakhir, menjadi tugas masyrakat, pemerintah, dan kolektor.

Pada perbincangan edisi 29 dengan Farah Wardani, ia menyampaikan telisik bahwa urusan mediasi seni rupa nyaris 70 persen berkait dengan uang. Padahal dalam atmosfer kesenian, apapun alirannya, terdapat nilai filosofis atau nilai ideal yang musti kita resepsi. Berarti peran mediator seperti galeri belum optimal dalam membangun silaturahmi nilai estetik yang resiprokal antara seniman dengan masyarakatnya.

Pada perbincangan kali ini dengan Biantoro Santoso selaku pemilik dan pengelola Nadi Gallery, disinggung bagaimana sikap Biantoro dalam menjalankan peran mediasinya. Seperti apa sikapnya, karakter galerinya, dan pandangan-pandangan lainnya disampaikan kepada Doddi Ahmad Fauji dari Koktail, berikut petikannya.


Tidak semua orang tahu latar belakang Anda bersinggungan dengan seni rupa, bisa diceritakan?
Saya beruntung semenjak kecil (TK) punya sahabat yang ayahnya seorang kolektor. Sering sekali saya bermain di rumahnya, dan terbiasa melihat banyak lukisan yang terpasang di hampir seluruh dinding rumahnya. Ada lukisan Affandi, Sudjojono, Trubus, Gambiranom, Nasjah Djamin, Hendra Gunawan, Kartika, dll. Beberapa kali saya bertemu (atau lebih tepatnya melihat) Affandi di rumah itu. Saya juga berkesempatan melihat beberapa buku seni rupa, di antaranya Buku koleksi Soekarno.
Saya mulai memiliki/mengoleksi karya semenjak kuliah di Bandung –2 karya grafis Agus Suwage menjadi koleksi pertama saya– saat itu dia masih kuliah di ITB (karya tersebut hingga saat ini masih saya simpan).
Saat saya menikah, koleksi bertambah satu lagi (kado dari Agus Suwage). Sejak saat itu, keinginan untuk mengoleksi bertambah kuat. Tabungan saya selalu habis untuk belanja lukisan, ha..ha..ha.. Saya mulai cukup banyak berkenalan dengan seniman, di antaranya Sutjipto Adi, Tisna Sanjaya, Irawan Karseno, Arahmaiani, Eddie Hara, Heri Dono, Mella, Nindityo, Faizal, dll. Hampir setiap bulan koleksi selalu bertambah beberapa karya.

Lalu Nadi Gallery, bagaimana kisahnya ditubuhkan?
Ada beberapa hal yang menyebabkan Nadi ada, di antaranya:
• Nadi ada karena krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia. Perusahaan yang saya dirikan bersama teman-teman sangat terpukul dengan kondisi itu. Kesibukan di kantor nenjadi sangat berkurang, untuk mengisi kesibukan dan mengurangi stress dengan kondisi yang ada, waktu di lingkungan seni rupa menjadi lebih banyak.
• Teman-teman mendorong saya untuk membuka galeri, karena menurut mereka saya memiliki kemampuan untuk itu.
• Sekitar akhir tahun 1999 saya bertemu dengan Alm. I GAK Murniasah di studionya, di Ubud, Bali. Saat itu ada sekitar 600 karya yang menurut saya sangat bagus tetapi tidak banyak galeri yang bersedia memamerkan. Saat itu saya membeli beberapa karya dan spontan saya janjikan untuk membuat pameran tunggalnya, walaupun saat itu Nadi belum ada. Janji itu yang memicu saya untuk harus segera membuat galeri.

Setelah memastikan untuk membuka galeri, untuk acara pembukaan saya minta Heri Dono untuk mau berpameran tunggal, dan dibuka oleh Romo Sindhunata. Untuk persiapannya saya banyak dibantu oleh Hendro Wiyanto, dari mencari nama galeri, menyusun program dan yang lain kita diskusikan berdua.

Visi, misi, dan prinsipnya?
Biantoro menyampaikan jawaban pertanyaan ini dengan mengutip tulisan kurator Hendro Wiyanto tentang Nadi Gallery.
Nadi Gallery adalah galeri seni rupa di Jakarta yang didirikan secara resmi pada 15 September 2000. Bersamaan dengan itu, dibuka pameran tunggal lukisan yang menampilkan karya-karya perupa terkemuka Heri Dono.
'Nadi' berarti batang aorta, yang dapat membawa kita kepada imajinasi tentang hadirnya suatu tanda berupa "denyut". Tanpa denyut, maka nadi tidak lagi menjadi sesuatu yang bermakna bagi kehidupan.
Seperti namanya, maka program-program yang utama dari galeri berupa pameran berhasrat menampilkan denyut perkembangan seni rupa mutakhir di Indonesia yang berlangsung dari saat ke saat.
Semua pameran yang diadakan di Nadi Gallery selalu direncanakan bersama-sama dengan seorang kurator tamu maupun kurator independent, dan dijadwalkan sedikitnya enam kali dalam setahun.
Pameran di Nadi Gallery dihasratkan mengedepankan karya-karya seni dari perupa –perupa Indonesia maupun mancanegara dengan pencapaian yang bermutu, unik dan menunjukkan pengucapan baru.
Selain menampilkan strategi-strategi yang bermakna dan apresiatif, pameran-pameran seni rupa di Nadi Gallery juga mempertimbangkan dengan hati-hati aspek-aspek komersial dari karya-karya yang dipamerkan. Maka selain mendorong perkembangan dan memberi tempat bagi para perupa untuk menghadirkan karya seni rupa yang bermutu, para kolektor juga diundang untuk menikmati dan membeli karya-karya seni tersebut.
Dalam lingkup yang lebih luas, tidak kalah pentingnya adalah menggiatkan peran dari Nadi Gallery sebagai fasilitator dalam program-program seni untuk mengadakan diskusi dengan para perupa, kritikus seni, kurator dan kolektor, mengadakan lokakarya, menerbitkan buku-buku seni dan merencanakan program-program yang berhubungan dengan pelbagai kemungkinan seni rupa itu sendiri.
Nadi Gallery selalu membuka diri untuk berdialog dan bekerja sama dengan pelbagai kalangan, baik pribadi maupun institusi, dari manapun mereka berasal.
Sejalan dengan itu, Nadi Gallery berhasrat untuk menempatkan diri sebagai suatu 'denyut' yang bermakna dalam lalu-lintas ekspresi-ekspresi seni rupa yang pluralistik di Indonesia.

Nadi Gallery dan Biantoro Santoso ini sangat terkenal, sampai-sampai ada yang memelesetkan Galeri Nasional jadi Galeri Nadional dan Bentara Budaya jadi Biantoro Budaya. Komentar Anda?Ha…ha…ha… Saya tidak tahu harus menjawab bagaimana. Plesetannya Yogya banget. Namanya juga plesetan, ya jangan dianggap serius lah…, buat guyon aja.

Ada juga yang bilang, kalau mau terkenal pameranlah di Galeri Nasional, tapi siap-siaplah tidak laku. Kalau mau laku, pameranlah di Nadi Gallery, bagaimana ini?
Amin….Kalau pameran di Nadi laku berarti karya seniman yang dipamerkan ok punya, ha…ha…ha… Yang membuat laku bukan "Nadinya" tetapi "karyanya". Tidak semua pameran di Nadi sukses dalam penjualan, ada juga yang kurang sukses. Saya yakin di semua galeri sama juga.
Di Negara manapun tempat yang paling bergengsi untuk berpameran ya di Galeri Nasional. Sehingga banyak seniman yang berharap bisa berpameran di Galeri Nasional, di negara manapun.

Bagaimana cara Anda mengelola galeri, dan teknik pemasarannya?
Dikelola oleh saya dan Meli (istri). Hubungan antara saya, seniman dan kolektor menjadi seperti teman. Nadi selalu mengirim undangan pameran (via pos, email, dan SMS). Sebenarnya pemasarannya masih sangat sederhana, dari teman ke teman saja. Ada juga yang di-referensi oleh galeri lain baik di Indonesia ataupun di luar.

Kendala apa yang paling berat dalam mengelola galeri?
Kendala yang utama adalah "Waktu"
• Tidak seperti kantor pada umumnya yang punya jam kantor, waktunya ndak ketentuan.
• Belum bisa menyusun jadwal pameran selama setahun penuh secara pasti, banyak bongkar pasang di tengah jalan. Pameran yang sudah direncanakan tidak siap, hingga harus merubah rencana.
• Di luar pameran, kepastian waktu kapan bisa mendapatkan karya dari seniman juga cukup sulit.

Selain mengelola galeri, Anda masih mencipta arsitektur?
Hampir 100% waktu kerja saya untuk ngurus galeri. Ya masih bantu nge-design dikit-dikit di kantor, itupun kalau pekerjaaan di galeri sedang tidak terlalu sibuk. Kadang muncul juga keinginan untuk ngarsitek, dan kalau keinginan itu muncul, ya saya akan datang ke studio di kantor.

Boleh buka dapur kan. Dari mana dana operasional Nadi Gallery?
Awalnya selain dari dana sendiri, saya merasa sangat dibantu oleh teman-teman di kantor, seperti misalnya selama hampir lima tahun semenjak berdiri Nadi dapat pinjaman tempat yang digunakan untuk galeri. Disamping itu, bisa menggunakan fasilitas yang ada.
Juga dari subsidi silang, keuntungan sebuah pameran untuk menutup kerugian pameran yang lain. Kalau sampai nombok, ya dari kantong sendiri, ha…ha…ha… Saya berusaha Nadi agar bisa menghidupi diri sendiri dan juga keluarga saya. Saat ini hampir 100% waktu kerja saya dan istri untuk ngurus Nadi.

Apakah Anda “membina” seniman supaya men-supply karya ke galeri Anda?
Wah serem amat istilahnya, “membina”. Hebat juga kalau ada galeri yang bisa jadi pembina. Nadi tidak membina, kalau bekerjasama ya. Saya ingin kedudukan galeri dan seniman itu setara. Istilah dibina menurut saya menjadikan kedudukan itu tidak setara lagi. Yang membina tentunya lebih tinggi daripada yang dibina. Jadi saya tidak ada keinginan membina seniman.

Apakah Nadi Gallery terbuka untuk pameran semua aliran seni rupa, misalnya karya seniman dari Jelekong, atau memamerkan kriya?
Saya kira tidak mungkin untuk bisa menampung semua aliran, dan saya juga tidak berminat untuk melakukan hal itu. Ntar galerinya jadi ndak asyik lagi.

Mengapa?
Galeri sebaiknya punya karakter, itu yang akan membedakan antara galeri yang satu dengan yang lain. Karakter itu muncul karena selera pemiliknya. Saya katakan pemilik karena sebagian besar galeri adalah milik perseorangan dan pemilik masih terlibat dalam pengelolaan. Sifat Galeri ada persamaan dengan "boutique" bukan "supermarket atau department store". Kalau harus menampung semuanya, ya tidak akan menjadi lebih baik.

Sikap Anda terhadap kategorisasi high art dan low art?
Saya belum jelas tentang kategorisasi itu. Apa batasan dan syaratnya, hingga bisa masuk kategori high-art atau low-art. Mungkin ada hubungan dengan tingkat pendidikan atau intelektualitas.
Saya lebih sering menggunakan istilah "selera" dalam peng-ketegori-an. Saya tidak setuju anggapan bahwa Seni kontemporer lebih tinggi dari yang lain. Hanya lain selera saja, seperti halnya makanan. "Gudeg" tidak lebih rendah dari "Steak".

Sekarang lagi booming seni lukis, sikap Anda?
Dinikmati saja, ha…ha…ha… Sikap saya biasa saja. Nadi tetap konsisten membuat pameran seperti tahun-tahun sebelumnya.
Fenomena booming saat ini berbeda dengan booming beberapa tahun yang lalu, karena yang sekarang tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi lebih luas. Banyak pembeli asing yang membeli karya seniman Indonesia. Kondisi ini ada baiknya juga, perhatian dari luar terhadap seniman Indonesia sedang bagus, kesempatan untuk ke pasar internasional terbuka lebar.

Fenomena booming turut dipicu oleh balai lelang. Pandangan Anda terhadap lelang?
Peran balai lelang dalam pasar seni rupa saat ini cukup besar. Dari sebaran promosi, informasi, katalognya saja, jauh lebih besar daripada pameran-pameran seni rupa. Hal itu menyebabkan tidak sedikit orang menjadikan balai lelang sebagai acuan. Mereka menganggap, seniman sudah hebat kalau karyanya sudah masuk balai lelang A, B, C…. Seniman sudah hebat, atau masuk papan atas karena sudah terjual dengan harga tinggi di lelang A, B, C …. Di mata mereka, hal itu lebih penting daripada reputasi seniman yang dibangun dengan mengikuti acara atau pameran penting. Saya sangat khawatir dengan kondisi ini. Seniman harus bisa menjaga keseimbangan antara harga yang tercipta di pasar dengan reputasi di wacana. Semakin besar jaraknya, semakin riskan kondisinya, kemungkinan untuk jatuh sangat besar.
Kondisi seperti saat ini harus diterima, terserah bagaimana kita menyikapinya. Saya rasa tidak benar juga menyalahkan kondisi ini ke balai lelang. Setahu saya, balai lelang tidak harus bertanggung jawab terhadap perkembangan seni rupa, tetapi harus bertanggung jawab kepada pemegang sahamnya, yaitu dengan mencari keuntungan sebesar-besarnya.
Saya hanya berharap balai lelang tidak melelang karya-karya baru (dibawah 2 atau 3 tahun), dan lebih ketat dalam seleksi karya dan seniman siapa saja yang sudah layak untuk dilelang. Misalnya janganlah menyatukan karya Affandi dengan karya seniman yang reputasinya belum jelas dalam satu lelang.

Mengenai Galeri Nasional, apa yang kurang dan harus dikembangkan di sana?
Kekurangan sih selalu ada, tetapi saya melihat ada usaha menjadi lebih baik. Pengelola Galeri Nasional harus sadar bahwa nama Galeri Nasional sangat terpandang di dunia seni rupa. Jadi bolehlah sedikit "sombong" dalam menyeleksi atau menyusun agenda acara, hingga semua acara yang diadakan di Galeri Nasional bisa OK.

Aktivitas asosiasi galeri swasta, apa saja yang sudah diprogramkan akan dikerjakan dalam waktu dekat?
Belum ada program.

Tentang para kurator pameran, mereka sudah professional?
Kita memang dididik untuk menjadi tidak profesional, ha…ha…ha… termasuk saya. Banyak kurator yang sudah bekerja dengan baik, tetapi saya tidak tahu apakah itu sudah bisa dikatakan profesional atau belum. Pertanyaannya jangan susah-susah dong…..!!!

Kritik seni rupa di media massa, apakah sudah memadai atau baru tingkat promosi dan advertensi? Kritik yang ideal menurut Anda seperti apa?
Minimal seperti Sanento (idealnya lho).

Adakah usaha nadi gallery dalam membangun daya apresiasi marayakat terhadap seni rupa?
Apresiasi masyarakat terhadap seni rupa harus dibangun dari oleh banyak pihak dan harus dimulai semenjak kecil. Kalau itu sulit tercapai dari pendidikan di sekolah, sebaiknya ya diusahakan dari luar sekolah atau keluarga. Beberapa kali Nadi menerima rombongan siswa dari beberapa sekolah, dan saya selalu berusaha bisa memberikan suatu yang lebih dengan berusaha agar seniman yang sedang berpameran dan kurator pameran dapat hadir saat itu, hingga ada diskusi yang cukup menarik.
Minimal Nadi secara rutin membuat acara pameran. Hampir setiap pameran selalu bekerja sama dengan kurator dan membuat katalog dengan cukup serius. Saya berharap dengan itu dapat berarti dalam dunia senirupa.

Fenomena apa yang sedang terjadi dalam seni rupa kita?
Seni rupa terdiri dari banyak bagian. Saat ini yang meriah hanya bagian seni lukis, sedangkan bagian yang lain biasa saja. Seni rupa secara keseluruhan tetap menunjukkan peningkatan. Janganlah yang terjadi di seni lukis dianggap mewakili seni rupa secara keseluruhan. Mungkin suatu saat ada kelesuan di seni lukis tetapi di bagian senirupa yang lain meningkat cukup tajam.

Barangkali Anda punya prediksi, akan seperti apa aktivitas seni rupa ke depan, lesu atau makin meriah?
Saya yakin tidak selamanya aktivitas seni rupa akan selalu meriah, pasti ada pasang surutnya. Akan menjadi ramai, tetapi suatu saat akan sedikit surut (menurun) untuk kemudian ramai lagi, demikian seterusnya. Saya katakan sedikit menurun karena tidak akan menurun sampai titik awal. Katakanlah kita mulai dari 0, akan naik keangka 5, setelah itu akan turun keangka 3 atau 4, kemudian naik lagi keangka 8, demikian seterusnya. Kalau dilihat secara grafik, walau ada naik turunnya tetapi tetap terlihat meningkat.

Omong-omong hoby Anda apa?
Shopping kali ya, ha…ha…ha…

Cita-cita Anda dalam bidang seni rupa?
Aku ingin hidup seribu tahun lagi.

_____________________________________________________

Biantoro Santoso Lahir, Muntilan, 26 Agustus 1960. Menempuh pendidikan di Fakultas Teknik Arsitektur, Universitas Katolik Parahyangan, Bandung pada 1981 – 1986. Pernah menjadi arsitek pada sebuah perusahaan kontraktor di Jakarta antara tahun 1987 – 1989. Sejak 1989 hingga sekarang, bersama beberapa teman mendirikan perusahaan kontraktor untuk bidang interior dan furnitur. Dan, pada 15 September 2000, mendirikan Nadi Gallery.

Sejak didirikan hingga 7 April lalu, Nadi Gallery telah melakukan pameran sebanyak 53 kali. Pameran perdana yang menandai pembukaan galeri adalah pameran Humor Rumor (di) Republikanrun karya Heri Dono dengan kurator Hendro Wiyanto, pada 15 September – 1 Oktober 2000. Pameran terakhir, digelar pada 26 maret – 7 April 2008, karya Yusra Martunus dengan juluk "Nécis" dan dikuratori oleh Rizki A Zaelani.

***edisi cetak termuat pada tabloid koktail nomor 30 --> masa edar 17 - 23 april 2008
::-->>: foto oleh doddi ahmad fauji